Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2009

Beringin Kembar itu Takluk

Di jantung kota Jogjakarta, tepatnya dalam kompleks keraton kesultanan ada sebuah tempat yang bernama Alun-alun Kidul atau alun-alun selatan. Tampak layaknya alun-alun atau lapangan, mungkin dipakai sebagai tempat mengumpulkan bala tentara kerajaan sebelum berangkat perang, atau hanya sekedar upacara. Yang membuatnya tampak unik adalah dua batang pohon beringin besar yang berdampingan di pusat alun-alun itu. Buat orang yang sering berwisata ke Jogja tentu dua beringin kembar ini sudah tidak lagi terdengar asing. Memang tempat ini adalah salah satu objek pariwisata utama di Jogja. Jadi tak perlu banyak cerita untuk mendeskripsikan dua batang pohon renta nan tegar itu. Pun tak perlu banyak omong tentang mengapa beringin kembar itu jadi tujuan wisata banyak orang. Mitos mengatakan bahwa siapa saja yang bisa berjalan tepat melintasi ruang antara dua pohon tersebut dengan mata tertutup, akan mendapatkan banyak berkah. Percaya tidak percaya terserah.

Bukan mitos ini yang jadi titik fokus. Tetapi bahwa ternyata amatlah sulit untuk berjalan dengan mata tertutup melintasi tengah-tengah beringin kembar itu. Walaupun jarak yang membentang antara kedua pohon itu cukup besar, paling tidak 10 meter, nyatanya banyak orang yang tak berhasil melakukan hajatnya, melintas dengan mata tertutup. Ada yang berhenti sebelum waktunya, ada yang berjalan melenceng jauh dari tujuan, bahkan ada juga yang tak berani melakukan. Mungkin terlalu terpengaruh tahayul, takut kualat, kesambet dan sebagainya. Tetapi ada pula yang berhasil dengan sukses berjalan melintas. Baik setelah banyak kali mencoba, maupun mereka yang langsung sukses pada kali pertama.

Aku termasuk yang sering melakukannya. Dan tak pernah sekalipun berhasil. Berapa kali pun mencoba. Malah satu usahaku membawa hasil yang mengejutkan. Sungguh tak masuk logika. Dalam satu usahaku, yang pertama dan dengan keyakinan penuh untuk berhasil dan harus berhasil, aku melakukan belokan 90 derajat, tanpa terasa, dan kontan melenceng dari sasaran yang seharusnya tinggal beberapa langkah lagi. Temanku yang memandu (dibolehkan untuk memandu tapi dilarang memberikan arahan apalagi menuntun) dengan bersuara sehingga aku bisa mendengar (mengira-ngira) arah suaranya sampai heran. Semenjak berjalan dari titik awal aku sudah berjalan lurus, selurus benang basah yang menjuntai. Hingga pada satu titik (hanya sekitar 5 langkah dari sasaran)tiba tiba aku berhenti, merasa ragu, dan kemudian berjalan lagi hanya dengan arah yang berbeda. melenceng ke kiri 90 derajat, tegak lurus dengan arah yang seharusnya. Sehingga ketika akhirnya aku berhenti dan membuka penutup mata, pohon-pohon itu ada di samping kananku, bukan di depanku seperti yang seharusnya. Setelah itu seperti tak mau kalah, aku mencoba dan mencoba lagi. Tanpa hasil. Hingga akhirnya aku menyerah. Tak pernah ingin mencoba lagi.

Hingga akhirnya sampai beberapa waaktu kemudian, sekitar satu minggu yang lalu aku kembali ke tempat itu. Kali ini hanya sebagai pengantar, pacarku yang belum pernah berkunjung ke tempat itu. Dan ketika dia mencoba pertama kalinya, dengan panduan dariku yang sangat konstan, "Yak, terus...terus...terus..." (aku tak ingin dia menabrak orang lain atau terantuk), dia langsung berhasil. Senang rasanya ketika melihat seringainya setelah mengetahui dirinya langsung berhasil pada kali pertama. Sungguh senang dan akupun ikut tersenyum. Hanya sampai ketika dia memintaku untuk mencoba. Pacarku itu sudah mendengar cerita tentang pengalamanku dengan beringin kembar itu. Dia pun tahu aku sudah tak bernafsu mencoba lagi. Berapa kali pun aku meyakinkan dia bahwa aku takkan berhasil dia tak mau mendengar. Sedikit mengancam dia pun memaksaku untuk mencoba. Akhirnya dengan perasaan ingin menghindari konflik, aku menurut. Kali ini tanpa target, tanpa memikul beban harus berhasil, nothing to lose dan hanya ingin menyenangkan hati kekasihku, aku melangkah. Lurus dan melintasi ruang di antara dua pohon kembar itu.

Tak habis pikir, bahkan belum sepenuhnya memahami kalau aku telah berhasil aku menyambut kekasihku yang berlari dengan tangan terbuka. Di tengah-tengah dua pohon berinin kembar kami berpelukan. Aku berhasil!! Bahkan di saat aku tak punya keinginan untuk berhasil. Bahkan di saat aku tak memercayai diriku sendiri bahwa ada kemungkinan aku akan berhasil. Yang kurasakan waktu melangkah pertama kali sungguh campur aduk. Takut menabrak, tersandung dan rasa ingin menyerah. Namun ada satu motivasi yang mengalahkan semua perasaan itu sehingga aku mampu berjalan tanpa ragu. Keyakinan yang diberikan oleh kekasihku tercinta. Sedetik pun dia tak pernah meragukanku. Dan rasa percayaku kepadanya bahwa dia takkan membiarkanku menabrak atau tersandung dan jatuh.

Sebuah pelajaran berharga dibeberkan kepadaku waktu itu. Yaitu keyakinan. Betapa berharganya sebuah keyakinan baik yang kita berikan kepada orang lain maupun yang orang lain berikan kepada kita. Begitu kuatnya keyakinan itu, hingga di saat kita sudah menyerah, keberhasilan akan menghampiri. Aku sudah menyerah. Tapi keyakinan yang dirasakan oleh kekasihku bahwa aku bisa berhasil telah menggerakkanku. Pun keyakinan yang kurasakan akan dukungan dan bantuan sang kekasih telah membawaku meraih kemenangan. Kenapa kita harus ragu atas kemampuan kita sendiri bila orang lain saja bisa yakin kalau kita akan berhasil? Cinta, keyakinan dan kepercayaan bisa membuat orang buntung melompat, orang buta berlari, dan orang menyerah mencoba lagi. Memang ini cuma masalah sepele. Aku tidak memenangkan piala atau uang jutaan. Tetapi aku memenangkan cinta, keyakinan dan kepercayaan orang yang paling aku sayangi. Rasanya seperti aku telah menaklukkan seisi bumi. Hari itu sang beringin kembar yang keramat telah takluk. Aku bukan orang pertama yang menaklukkannya. Tapi hari itu aku keluar sebagai juara. Aku dan kekasihku tercinta.

buat /RS
terima kasih atas cinta, keyakinan dan kepercayaanmu

Jumat, 28 Maret 2008

The Seven Ages of Men

Seorang penulis pernah menulis dan saya pernah membaca bahwa, perkembangan seorang lelaki dibagi atas tujuh tahap masa. Akan saya kutip dan sedikit tambahkan. Tahap pertama adalah masa di mana dia ingin menjadi seorang masinis kereta api atau seorang pembalap. Tahap kedua adalah masa di mana ia ingin menjadi seorang detektif atau seorang superhero. Tahap ketiga adalah masa di mana ia ingin menjadi seorang Adonis, seorang model idola, a rockstar atau paling tidak seorang pria metroseksual. Tahap keempat, masa ia ingin menjadi seorang serdadu atau seorang pelaut, macho man. Tahap kelima, seorang pengusaha sukses atau seorang milyuner. Tahap keenam seorang raja atau presiden. Tahap yang terakhir adalah masa di mana ia ingin menjadi seorang anak lelaki, a boy.

Anda bisa mengira-ngira sendiri pada usia berapa saja tahap-tahap tersebut berlangsung, tergantung perkembangan kedewasaan tiap pelaku. Tiap lelaki tentu saja berbeda. Saya sendiri mengalami hampir semua tahap itu. Bahkan saya mengakui bahwa saat ini saya sedang dalam tahap terakhir. Krisis paruh baya? Mungkin. Kita sebagai manusia dewasa seringkali mengingkari hadirnya seorang anak-anak dalam diri kita walaupun pada akhirnya harus mengakui enaknya menjadi seorang anak kecil yang jujur, polos dan bebas kontaminasi.

Terlepas dari itu semua, saat ini saya sedang menikmati terwujudnya keinginan dan kesenangan menjadi seorang jurnalis atau seorang penulis. Bukan dilihat dari segi materi, tapi lebih dari sisi kepuasannya saja. Walaupun tak disebutkan di atas, saya akan menggolongkan keinginan menjadi seorang jurnalis pada tahap kedua. Ketika kecil saya suka membayangkan diri menjadi tokoh superhero favorit saya seperti Superman atau Spiderman. Kedua tokoh itu memiliki alter-ego seorang jurnalis, Clark Kent yang seorang wartawan Daily Planet dan Peter Parker yang seorang fotografer Daily Bugle. Pada masa itu saya memiliki rasa kagum yang sangat besar terhadap profesi wartawan atau jurnalis. Nampaknya mereka adalah orang-orang yang pintar, banyak tahu. Sampai sekarang bahkan, saya paling tertarik melihat seorang jurnalis perempuan, apalagi yang cantik. Makanya sebagian besar perempuan terkenal yang saya gandrungi kebanyakan adalah jurnalis. Yang cantik-cantik jelas. Contohnya Kania Sutisnawinata, Ira Koesno, Zelda Savitri, Rahma Sarita, Fifi Aleyda Yahya, Ratna Dumila dan masih banyak lagi. Personifikasi seorang Lois Lane. Bahkan sebagian sudah terdaftar dalam friend list saya di Friendster, saking gandrungnya. Rasanya suka sekali melihat mereka, cantik dan pintar. Dua kualitas yang paling saya kagumi pada perempuan.

Kembali kepada pokok bahasan, pokoknya saya mengakui kebenaran yang diungkapkan oleh seorang penulis itu. The seven ages of men. Bahkan bisa dibilang sekarang saya sedang mengalami semua tahap sekaligus. Menurut The Secret, itu mah sah-sah saja tokh?

Kamis, 27 Maret 2008

Tentang Wimar Witoelar

Mungkin semua orang kenal, pernah melihat atau sekedar tahu orang yang namanya Wimar Witoelar ini. Badan tambun, rambut keriting, mata sipit. Pernah punya acara sendiri di televisi, dan sekarang punya lagi setelah sekian lama. Saya sendiri termasuk golongan orang yang tahu dan pernah lihat. Kenal? Belum. Mudah-mudahan akan kenal dalam waktu yang tidak lama lagi. Entah kenapa saya membuat tulisan ini. Saya merasa tidak punya kapasitas apa-apa untuk menulis tentang Pak Wimar. Mungkin tulisan ini merupakan sebuah ‘siasat’ untuk bisa kenalan dengan beliau. Akhir-akhir ini saya punya keinginan besar untuk punya kenalan orang-orang terkenal dan pintar macam beliau. Bisa bilang dia pintar, padahal belum kenal? Oke, kita listing prestasinya. Pengusaha sukses, seperti yang sudah disebutkan di atas beliau adalah bintang acara di televisi, tulisan-tulisannya dimuat di berbagai macam media, dan pernah jadi juru bicara presiden. Cukup?

Jika ada dua pilihan : kenalan dengan Wimar Witoelar atau kenalan dengan Luna Maya? Pasti saya sabet semua pilihan tersebut. Masalahnya di sini bukanlah terlihat seperti apa orangnya. Secara fisik Pak Wimar bukanlah tandingan Luna Maya. Tapi tetap saja mereka berdua tidak bisa dibandingkan. Masing-masing berdiri di ranah yang berbeda. Fungsinya berbeda. Tapi keduanya sama-sama hebat, buat saya.

Lupakan Luna, kembali ke Pak Wimar. Saya selalu bertanya-tanya, orang-orang macam apa yang jadi pengagum beliau? Tentu saja kalau dibandingkan, saya berani bertaruh, jumlah penggemar Luna Maya pasti jauh lebih banyak daripada jumlah penggemar Pak Wimar (sedikit kembali ke Luna). Saya pikir penggemar Pak Wimar banyak dari kalangan profesional, akademisi, politisi, seniman, orang-orang media atau paling tidak orang-orang yang suka baca segala macam buku atau tulisan (benar tidak, Pak?).

Saya pernah baca buku beliau, A Book About Nothing, sebuah buku kumpulan tulisannya yang pernah dimuat di majalah Djakarta! Secara sekilas buku itu memang bukan tentang apa-apa. Nothing. Tapi saya yakin banyak yang baca dan suka buku itu. Dengan sedikit arogan saya bilang, “Ah, gue juga bisa nulis buku kaya gitu..”. Nah, di sini masalahnya. Kalu saya yang menulis buku itu, apa ada yang mau beli? Lebih parah lagi, apa ada yang mau menerbitkan? Itulah bedanya Pak Wimar dengan saya. Di tangannya, buku yang nothing itu bisa jadi something. Even, way beyond something. Itulah enaknya jadi orang terkenal, pintar dan kalau ngomong didengar orang. Punya Midas touch. Buat saya yang ingin jadi penulis top, bisa membayangkan enaknya jadi beliau. Apa yang saya tulis orang pasti baca. Walaupun agak segmented, yang jelas pasti ada yang baca. Maaf ya, Pak, kalau saya bilang segmented. Bukannya benar begitu? Tidak semua orang baca buku dan nonton acara Bapak. Paling tidak itu yang saya kira. Yang penting kan kualitas orang-orang yang termasuk dalam segmentasi itu. Bukannya saya meremehkan orang yang tidak baca buku Pak Wimar atau yang tidak mengagumi Pak Wimar. Editor saya orang pintar, tahu tentang Pak Wimar, tetapi saya tidak yakin dia pernah baca buku paling tidak yang judulnya tersebut di atas. Bukan tidak suka, barangkali hanya belum tahu. Malah editor saya bilang ,”Kalau bisa kenal dengn Pak Wimar itu bagus sekali. Siapa tahu bisa diwawancara untuk majalah kita.”

Sampai di sini saya masih belum tahu maksud tulisan ini. Basic knowledge saya masih belum banyak untuk membuat tulisan tentang Wimar Witoelar. Orang kenal saja tidak. Terus apa maksud tulisan ini? Analisis yang terstruktur? Bukan. Suatu usaha untuk mengkultuskan seseorang? Wuih! Memangnya Pak Wimar pantas dikultuskan? Saya yakin beliau pasti ndak mau dikultuskan. Apa lagi sampai dibuatkan patungnya.

Pokoknya tiba-tiba saja saya pengen menulis tentang beliau. Dasarnya simple saja. Rasa kagum terhadap beliau. Rasa ingin mengenal beliau secara pribadi. Mungkin sedikit alasan, karena editor saya menekankan pentingnya banyak berlatih menulis artikel. Rasanya senang kalau bisa ngobrol dengan beliau. Minimal chatting lewat Yahoo Messenger. Atau memasukkannya ke dalam friend list di Friendster atau Facebook. Jadi rasanya mungkin benar juga maksud tulisan ini adalah siasat biar Pak Wimar mau kenalan dengan saya. Pasti saya akan terus-terusan berhubungan dengan Pak Wimar kalau sudah kenal. Lewat email, sms (karena biaya telepon mahal), chatting atau ketemu terus ditraktir ngupi-ngupi sambil ngobrol about nothing.

Dapat kesempatan untuk mengorek isi kepala Pak Wimar. Curi-curi ilmu lah. Wah, enaknya! Sampai suatu saat saya mulai jarang berhubungan dengan beliau. Itu tandanya saya sudah mulai sering chatting, sms-an (karena biaya telepon mahal) dan ketemu Luna Maya…

Menjadi Kaya

Sebuah anekdot senantiasa menggelitik akal sehat saya.

Syahdan, Abunawas sedang kumat isengnya. Dia pergi mengunjungi si Fulan, orang terkaya di desanya.

Katanya, “Wahai Fulan. Benarkah kau orang terkaya di desa kita ini?”

Jawab Fulan, “Wahai Abunawas. Benarlah itu adanya.”

“Berapa jumlah kekayaanmu?” selidik Abunawas kemudian.

“Tak kurang dari sepuluh ribu keping uang emas,” bangga si Fulan.

“Maukah kau jika kuberi seribu keping uang emas?” tanya Abunawas.

“Oh, jelas! Siapa pula yang tak mau?” kata si Fulan sambil menyeringai lebar.

“Wahai temanku Fulan yang malang! Berarti kau masih miskin,” ujar Abunawas.

Kontan seringai Fulan lenyap berganti kerut di dahi.

“Kenapa pula kau berkata begitu?” tanya Fulan kebingungan.

“Kau bilang punya tak kurang dari sepuluh ribu keping uang emas. Tapi kau masih silau dengan seribu keping. Oh, sahabatku yang malang!” kata Abunawas sambil berlalu, meninggalkan Fulan yang hanya bisa melongo.

Saya pernah dan rasa-rasanya masih ingin menjadi orang kaya raya. Tapi mungkin kini pengertian saya tentang kekayaan banyak bergeser. Kaya yang saya pahami dulu adalah memiliki setumpuk uang dan terus ingin menumpuknya. Jika saya menghabiskan setumpuk, masih akan ada setumpuk lagi untuk dihabiskan, dan setumpuk lagi kemudian, dan terus lagi. Pendek kata, definisi kaya adalah memiliki lebih, mungkin lebih dari yang saya butuhkan.

Tapi sekarang, mudah-mudahan saya tidak munafik, pengertian itu telah berubah. Kaya adalah tidak merasa kekurangan. Bagaimana kita bisa merasa tidak kekurangan? Yaitu bila semua kebutuhan kita terpenuhi. Secara ekstrim bisa dikatakan bila kita telah merasa tak memerlukan apa-apa lagi, paling tidak secara materi. Buat apa kita menumpuk kekayaan jika hanya ditumpuk? Uang takkan berarti apa-apa jika hanya ditumpuk, tidak dimanfaatkan, tidak dibelanjakan. Buat apa menumpuk kekayaan jika mendatangkan rasa takut? Takut uang kita hilang, dicuri, habis. Tak tenang jadinya. Hati kita dikuasai ketakutan, kekuatiran. Hati kita jadi miskin. Inilah yang terjadi di negeri kita. Banyak orang menumpuk kekayaan. Sudah kaya dan berkuasa, masih terasa kurang. Akhirnya hak orang dilangkahi. Apa saja dijalani, biar tambah kaya. Jadi maling, korup. Yang model begini mah segudang di Indonesia. Artinya bangsa kita masih miskin.

Kaya hati ternyata lebih penting. Bikin tenteram, damai. Toh uang hanya titipan. Dalam setiap jumlah rezeki yang kita terima, sebagian adalah hak orang lain. Uang adalah amanah. Harus mendatangkan manfaat buat orang, dan buat kita sendiri. Kalau hanya ditumpuk, apa manfaatnya? Bukan berarti kita harus royal. Tebar-tebar uang, tidak memperhatikan keperluan kita. Sejahterakan diri sendiri, baru bisa bederma. Kalau buat kita sudah cukup, sisanya sedekah.

Jadi sekarang bahasanya sudah berubah. Saya tidak lagi ingin jadi orang kaya raya. Saya ingin jadi orang yang serba cukup, tidak kekurangan. Yah, begitulah. Cukup satu rumah, satu apartemen, satu pulau, satu helikopter, satu pesawat pribadi, satu yacht, satu Harley Davidson, satu Ferrari, satu Maybach, satu Bentley, satu…. hehehehehehe….

Aku Ingin Bangsa Ini Aku Tak Ingin Bangsa Ini

Aku tak ingin ada orang yang kalah lalu mengumpulkan orang banyak dan membayar mereka untuk menggoyang yang menang.

Bilang yang menang itu curang, menuntut hitung ulang atau mulai merusak dan bakar-bakar.

Kalau tim kesayangan ditundukkan, tim lawan dilempari. Wasit dikejar, dipukuli. Stadion dirusak, mobil dibakar, tawuran, jalanan jadi mcet total. Wajah bangsa dicoreng. Pengurus dibilang tak becus, wajar. Wong pimpinannya saja narapidana. Di dunia ini mana ada organisasi besar yang pimpinannya duduk di balik jeruji penjara? Adanya ya di Indonesia. Disuruh mundur tak mau. Seperti tak punya malu.

Aku ingin bangsa ini legowo, berhati besar.

Aku tak ingin lihat birokrat memanfaatkan jabatan, mempersulit orang.

Biar urusan cepat selesai minta disogok, dikasih uang. Padahal sudah digaji untuk bekerja, melayani orang

Aku ingin bangsa ini jujur, tidak asal cari peluang.

Aku ingin bangsa ini menghargai pegawainya. Kasih mereka bayaran tinggi biar tidak terus cari sampingan.

Aku tidak ingin lihat orang buang sampah sembarangan.

Aku tidak ingin lihat orang ngetem, bikin macet jalanan.

Aku tidak ingin lihat orang nyebrang seenaknya.

Aku tidak ingin lihat orang melanggar peraturan.

Aku tidak ingin lihat orang gelantungan di bus, naik di atap gerbong kereta.

Kalau jatuh, bikin repot aparat. Nanti masuk televisi. Nanti anak-anak kecil sering nonton berita orang mati jatuh dari kereta. Lihat orang hancur berdarah-darah jadi biasa.

Aku ingin lihat bangsa ini disiplin, tahu aturan.

Aku tak ingin lihat orang digusur. Tak ingin serba salah.

Dibiarkan, merusak pemandangan, bikin kotor, kumuh, jorok, bikin malu.

Digusur, kasihan, tak berperikemanusiaan, tak tahu mau diapakan.

Kalau sudah peraturan ya ditegaskan. Tidak boleh bangun rumah di sini. Tak boleh berjualan di sini.

Jangan hari ini digusur lalu ditinggal. Lama-lama ada yang bikin rumah lagi. Kapan-kapan digusur lagi. Begitu terus tak ada henti. Apa ini jadi ladang petugas cari peluang?

Aku tak ingin lihat fasilitas umum tak dipelihara,lalu rusak. Katanya tak ada biaya.Lalu buat apa orang bayar pajak? Dikejar-kejar, dihimbau-himbau, kalau ada yang mau bayar kadang-kadang dipersulit. Peraturannya kelewat banyak. Malah orang harus kursus segala biar ngerti masalah pajak.

Aku masih ingat orang diberi gelar pahlawan kalau mau bayar pajak. Orang bayar pajak itu kewajiban, kok.

Kalau uang pajak sudah terkumpul, tak jelas buat apa. Negara ini seperti kekurangan uang terus. Apa uang pajak hanya untuk bikin tebal kantong segelintir orang saja?

Aku ingin bangsa ini bertanggung jawab.

Begitu juga soal bayar iuran.

Listrik itu barang dagangan. Kalau orang banyak yang beli harusnya makin untung. Ini malah orang suruh berhemat. Kalau tidak listriknya habis. Harga minyak mahal jadi alasan. Salah sendiri kenapa bikin listrik pakai minyak? Benahi dulu perusahaan. Singkirkan tikus-tikus yang bikin PLN jadi ATM rombongan. Perbaiki pelayanan. Jangan sampai listrik kebanyakan mati, tapi maunya iuran dinaikkan.

Kembangkan pengetahuan. Hari gini kok cuma minyak yang jadi andalan.

Aku ingin bangsa ini makin pintar. Buat terobosan. Ada matahari, panas bumi, air yang lebih ramah lingkungan. Dimanfaatkan.

Aku tidak ingin bangsa ini picik.

Kalau akhlak bangsanya rusak, majalah seronok jadi makanan. Situs porno mau diharamkan. Si Inul tdak boleh ngebor-ngeboran.

Seperti tidak ada lagi kebebasan. Katanya negara demokrasi. Kenapa sampai dunia maya saja diperdebatkan. Mana hak pribadi orang? Harusnya semakin dewasa. Kalau tidak suka yang pornografi dan pornoaksi, ya jangan lihat. Jangan ancam orang yang mau lihat. Jangan asal bilang orang sesat. Katanya yang seronok bikin orang blingsatan, merusak iman. Ah, dasar orangnya saja. Biar pakai baju rapat, kalau memang otak ngeres, bisa kelihatan telanjang.

Kalau sudah begitu, agama dijadikan alasan. Alasan buat demo besar-besaran, menebar ancaman dan kebencian. Pakaian santri, kelakuan preman.

Juga kalau di teve banyak adegan kekerasan. Acara gulat dagelan jadi sasaran. Stasiun teve yang disalahkan. Katanya nggak mendidik. Anak kecil jadi ikut-ikutan. Malah sampai jatuh korban.

Kok stasiun teve disuruh mendidik? Lalu buat apa ada orangtua. Lihat anaknya nonton gulat dibiarkan. Padahal acaranya diputar larut malam. Orangtua macam apa yang membiarkan anaknya nonton teve malam-malam? Kalau tidak suka kan tinggal ganti saluran. Atau matikan, suruh anaknya naik peraduan.

Aku ingi bangsa ini luas wawasan. Hargai pilihan.

Aku tidak ingin bangsa ini bodoh.

Pendidikan tak diperhatikan. Banyak orang miskin, tidak bisa sekolah. Banyak bangunan sekolah hampir rata dengan tanah. Guru-guru tidak diupah layak. Malah ada seorang kepala sekolah jadi pemulung sampah. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi tanya saja mereka. Pasti mereka lebih senang digaji banyak. Mereka tidak butuh gelar pahlawan. Mereka butuh uang buat makan. Kalau perut kenyang, mengajar jadi semangat.

Apa lagi kalau sekolah digratiskan. Makin banyak yang sekolah, makin banyak yang pintar. Makin pintar bangsa ini jadinya. Kalau pintar, bisa cari kerja. Kalau pintar cari kerja, bangsa ini tidak lagi dipenuhi orang-orang miskin. Tidak ada lagi anak-anak kecil ngamen di perempatan jalan. Tidak ada lagi anak-anak kecil diperdagangkan.

Tidak perlu lagi jadi TKW. Pergi jauh-jauh ke negeri Jiran. Pulang tanpa bayaran, malah remuk redam, babak belur, mati, atau tidak bisa pulang karena jadi tahanan. Katanya karena membunuh sang majikan. Kalau sudah begini, pemerintah tak mau turun tangan. Padahal para TKW itu sumber devisa, nafkah negara. Itu urusan PJTKI, negara jangan disalahkan. Pemerintah kok jadi kelihatan tidak pintar.

Aku ingin bangsa ini pintar.

Aku tak ingin bangsa ini jadi preman.

Paling menakutkan preman yang pintar. Bikin perkumpulan atau organisasi massa. Entah dasarnya agama atau kerakyatan, kerjanya bikin ketakutan. Siapa yang tidak ngeri lihat kumpulan preman? Jadi penguasa jalanan terus tawuran, rebutan lahan.

Kalau waktu puasa sibuk merazia. Rumah makan dan kafe yang buka dihakimi ramai-ramai. Katanya menjaga kesucian Ramadhan. Kok malah bikin keributan? Bukankah sudah ada aturan? Kalau bulan puasa tidak boleh sembarangan. Kan sudah ada hukum. Serahkan saja sama aparat. Jangan main hakim sendiri.

Aku ingin bangsa ini aman.

Aku tidak ingin bangsa ini serakah.

Sudah kaya masih jadi maling. Korupsi sana-sini. Rebutan jabatan. Rebutan tempat basah. Rebutan kursi dewan. Rebutan kepentingan.

Nasib rakyat jadi mainan. Jangankan diperjuangkan, malah dimanfaatkan. Waktu pemilihan, janji-janji ditebarkan. Kalau sudah menang semua dilupakan. Yang penting sudah punya kedudukan. Perut sendiri diutamakan. Jadi tambah pintar ngomong. Politik praktis memang mengesankan.

Dewan perwakilan jadi tempat cari uang. Bikin anggaran dibesar-besarkan. Minta laptop, biaya jalan-jalan studi perbandingan ke luar negeri, minta teve plasma buat bagus-bagusan walau tak pernah ditonton. Semua bukan tanpa alasan. Biar kinerja jadi tambah bagus, melayani masyarakat biar tambah relevan dan signifikan.

Kalau rapat lamanya sampai bulanan. Nginap dan melobi maunya di hotel-hotel mewah, padahal di gedung DPR banyak ruangan. Bisa dibayangkan berapa biayanya. Biaya rapat, konsumsi, penginapan. Bisa sampai milyaran. Coba kalau biaya rapat dipakai buat kasih makan orang kelaparan. Atau bantu pengungsi bencana alam. Atau bikin sekolah baru. Atau…

Aku ingin bangsa ini… tak tahulah…

Senin, 24 Maret 2008

Jazz

Definisi musik jazz yang dijabarkan oleh gitaris Jubing Kristianto dalam buku yang ditulisnya, Gitarpedia Buku Pintar Gitaris (terbitan Gramedia, Jakarta – red) adalah: musik yang berakar dari New Orleans, Amerika Serikat, pada akhir abad ke 19. Merupakan buah perbauran berbagai jenis musik, antara lain blues, ragtime, brasss-band, musik tradisional Eropa, dan irama-irama asli Afrika.

Kamus besar bahasa Inggris Mirriam-Webster menuliskan: musik Amerika yang dikembangkan dari ragtime dan blues dan dikarakterisasi oleh ritme-ritme propulsive yang disinkopasi, permainan ensambel polifonik, berbagai tingkat improvisasi, dan seringkali menggunakan distorsi yang disengaja dari pitch dan timbre. Istilah jazz pertama kali dipakai kira-kira pada tahun 1917. Asal kata jazz sendiri tidak pernah benar-benar diketahui. Kemungkinan kata ini berasal dari bahasa prokem orang-orang keturunan Perancis di daerah New Orleans, ‘jaser’ yang berarti ngerumpi. Terlepas dari itu semua, jazz sudah berkembang jauh menjadi suatu ikon budaya dan gaya hidup bagi sebagian orang, alih-alih hanya sebuah kata. Bahkan era akhir ‘20-an dan awal’30-an dikenal sebagai The Jazz Age di negara asalnya, Amerika Serikat. Era yang juga dikenal sebagai The Great Depression itu tidak mampu menghentikan para jet-set untuk berpesta, memenuhi kelab-kelab jazz dan ballroom hotel-hotel besar di kala itu.

Memang, jazz identik dengan kaum elit. Sudah dari sono-nya musik ini selalu menjadi pilihan bagi para saudagar kaya, pesohor maupun kaum bangsawan yang slalu menghadiri pesta dengan tuxedo dan gaun-gaun mahal. Padahal cikal bakal musik jazz adalah musik yang awalnya dimainkan oleh kaum yang terbuang, budak-budak hitam dari Afrika. Entah kapan dan di mana kontradiksi ini telah lama menguap.

Di Indonesia sendiri musik jazz telah menempuh perjalanan yang tidak pendek. Pada awalnya musik ini dibawa oleh bangsa Eropa, pemerintahan kolonial Hindia Belanda di saat yang kurang lebih sama dengan booming-nya era jazz di Amerika Serikat. Selalu dimainkan di hotel-hotel mewah atau di rumah-rumah para pejabat kolonial, menyebabkan musik ini menemui kondisi yang sangat eksklusif. Tidak semua orang dapat menikmatinya. Hanya yang berkedudukan tinggi, berkoneksi dan tentu saja, berkuasa dan berduit. Bukan musiknya kaum papa dan pinggiran (baca: terjajah). Barangkali inilah salah satu sebab musik jazz tak pernah merakyat di Tanah Air. Mungkin sampai sekarang.

Jazz telah mendunia. Menjadi konsumsi global. Dalam perjalanannya, musik ini telah berkembang menjadi banyak sub-genre. Persinggungannya dengan banyak faktor, kondisi geografis, ragam budaya dan jenis musik lain, telah memperkaya musik ini. Pada awalnya jenis yang paling populer adalah swing, dimainkan oleh sebuah big-band yang didominasi alat musik tiup. Biasanya dipakai untuk mengiringi pesta dansa. Para pelopor genre ini adalah nama-nama legendaris seperti Benny Goodman, Count Basie, Tommy Dorsey, Duke Ellington dan Benny Miller. Kemudian muncullah nama-nama seperti Charlie Parker dan Dizzie Gillespie. Mereka menganggap gaya jazz lama terlalu kaku dan kurang bebas. Mereka kemudian memelopori lahirnya genre baru yaitu bebop dan hard-bop, yang lebih lugas dan dinamis, lebih bernilai seni daripada hanya sekedar musik pengiring dansa. Unsur-unsur alat musik elektrik pun mulai dimasukkan.

Kondisi geografis juga mulai memberikan warna tersendiri pada musik jazz. Pada tahun ’60-an, seorang saksofonis jazz Amerika Serikat bernama Stan Getz dan seorang komponis-pianis Brazil Antonio Carlos Jobim memperkenalkan sejenis musik latin ke negeri Paman Sam dan segera saja bossa nova mulai mendunia. Di Inggris pada tahun ’80-an lahirlah sentuhan Eropa yang mengambil bentuk British funk dan acid jazz yang diusung oleh nama-nama grup band seperti Level 42 dan Incognito. .Percampuran antar genre melahirkan jazz rock dan fusion. Musik jazz juga melahirkan banyak legenda. Mulai dari yang sudah almarhum seperti trumpetis Miles Davis yang memelopori cool jazz, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald, Billie Holiday, yang gaek tapi masih aktif seperti Tony Bennet, Al Jarreau, pianis Dave Grusin, sampai yang muda-muda dan penuh energi seperti Harry Connick.Jr, Jamie Cullum, Michael Buble dan Norah Jones.

Kini musisi-musisi jazz handal sudah tidak lagi dimonopoli oleh nama-nama beken dari negeri Paman Sam. Negara-negara Eropa, Amerika Selatan bahkan Asia juga banyak menelurkan musisi-musisi jazz yang ciamik. Jepang adalah adalah salah satu negara Asia yang rajin mengorbitkan banyak musisi dan inovasi musik jazz mutakhir. Salah satu yang paling berkibar sampai sekarang adalah grup band fusion Casiopea.

Festival-festival musik jazz juga banyak diadakan. Beberapa yang melegenda adalah North Sea Jazz Festival di Belanda, Toronto Jazz Festival di Kanada, dan New Orleans Jazz & Heritage Festival di Amerika Serikat, tanah kelahiran musik ini. Festival-festival tahunan bertaraf internasional semacam ini selalu menjadi tolok ukur perkembangan musik jazz dunia.

Bagaimana dengan perkembangan musik jazz di Tanah Air? Pada awal tahun ’90-an lahirlah festival Jak Jazz yang dimotori oleh legenda jazz Indonesia Ireng Maulana. Kemudian pada awal abad ke 21 hadirlah Java Jazz Festival. Keduanya nampak selalu berlomba-lomba menghadirkan artis-artis jazz papan atas dunia. Keduanya berskala internasional. Secara rutin cukup berhasil membuat Indonesia dilirik dunia sebagai barometer baru khazanah per-jazz-an. Tiap tahun festival-festival tersebut selalu ramai dikunjungi berbagai macam lapisan penggemar musik jazz Tanah Air, walaupun tetap saja eksklusif lantaran harga tiket pertunjukannya yang masih terhitung sangat mahal untuk ukuran kantong masyarakat Indonesia. Setelah festival-festival tersebut berakhir, tetap saja pergolakan musik jazz lokal nampak kembali sepi. Itu masih ditambah dengan festival-festival berskala lebih kecil, tetapi cukup mampu mewarnai gejolak jazz lokal seperti Jazz Goes to Campus yang dimainkan dalam lingkungan kampus-kampus di Ibukota. Walaupun kaum muda mendominasi banyaknya jumlah penonton festival, tetap saja sebagian besar mereka menganggap jazz terlalu ‘berat’ untuk dijadikan santapan mereka sehari-hari. Nampaknya mengucurkan dana besar untuk menonton sebuah festival musik jazz internasional masih dianggap hanya sebagai sesuatu yang menaikkan gengsi. Atau sekedar bersuka ria berkumpul sesama teman-teman, menikmati tontonan murah meriah di festival jazz kampus. Mereka tetap memilih musik-musik ber-genre umum seperti rock, pop, r&b atau musik dansa house, trance dan hip-hop. Secara kasat mata dapat ditemui dari banyaknya stasiun televisi di Tanah Air, tak ada satu pun tayangan program yang dipersembahkan khusus bagi pecinta musik jazz. Bahkan musik jazz kalah jauh pamornya dibandingkan dangdut di ranah pertelevisian secara komersial. Demikian pula yang terjadi pada ranah gelombang radio. Sangat jarang ditemukan stasiun radio yang didedikasikan untuk para penggemar jazz. Jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Paling-paling di setiap kota besar di Jawa khususnya, hanya ada satu stasiun radio yang mengudarakan program musik jazz sebagai main course-nya. Dan itu pun hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya. Lagi-lagi mereka yang bukan orang awam dalam menikmati musik jazz tak bisa menyalahkan siapa-siapa atas kondisi ini.

Pada era ’80-an khazanah musik Indonesia masih diramaikan oleh grup-grup jazz seperti Funk Section (mendiang Krist Kayhatu dkk), Karimata (Candra Darusman dkk), Krakatau (Indra Lesmana dkk), Emerald (Noorsaid bersaudara) dan banyak lagi yang lainnya. Kini mereka bagaikan hilang ditelan kabut, tersingkir oleh permintaan industri musik yang memilih jenis-jenis musik pop yang lebih laku dijual. Musisi-musisi jazz seperti Erwin Gutawa dari Karimata dan Dwiki Dharmawan dari Krakatau tidak lagi menggiatkan kelompok musiknya dan nampaknya lebih memilih jalur ‘aman’ bermain di dunia pop. Tak terlalu mengherankan, memang. Bahkan musisi kelas dunia seperti Sting yang pernah mengaku bahwa jazz lah gairah utamanya dalam bermusik, pada awalnya membentuk grup band punk rock, The Police hanya sebagai sarana untuk mencari nafkah yang pasti.

Dunia jazz Indonesia hanya meninggalkan tempat bagi nama-nama lama seperti almarhum Jack Lesmana, almarhum Bill Saragih dan almarhum Nick Mamahit, Kiboud Maulana, Buby Chen atau Mus Mujiono. Hampir tidak ada ruang bagi regenerasi. Walaupun kini telah banyak bermunculan nama-nama baru dan segar seperti Malik and d’Essentials, Ecoutez dan Parkdrive tetap saja mereka memilih jalur aman. Walaupun kerap tampil dalam festival-festival jazz lokal, mereka mengaku membawakan lagu-lagu pop yang jazzy dan tetap emoh dibilang memainkan musik jazz. Untungnya masih ada segelintir orang muda yang setia dan peduli pada musik jazz yang mainstream. Mereka berkumpul, memainkan dan menikmati musik jazz, walaupun hanya untuk kalangan terbatas. Contohnya adalah apa yang dilakukan para orang muda yang membentuk suatu komunitas yang diberi nama Komunitas Jazz Kemayoran. Tetapi, komunitas ini tetap saja tampil secara terbatas, baik bagi anggotanya maupun peminatnya. Tidak mampu menjangkau masyarakat luas. Begitu pun, sebenarnya banyak talenta-talenta muda yang menggemari jazz. Hanya saja media bagi mereka untuk tampil dirasa masih sangat kurang. Mereka kebanyakan unjuk gigi dalam lomba-lomba bagi grup musik yang biasanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah musik yang disokong oleh produk alat musik terkenal. Tetapi, pembinaan selanjutnya seperti berjalan di tempat. Seperti tak ada pihak yang mau memberikan perhatian lebih kepada mereka, apalagi mengajak mereka masuk dapur rekaman. Sekali lagi, sulit menjual musik jazz.

Musik jazz, seperti semua karya seni lain, memang dinamis. Dalam perjalanan usianya yang panjang, semakin berkembang dan menghadirkan banyak warna. Para penikmat musik pun disuguhkan oleh makin banyak pilihan. Mau yang konservatif tapi berat, atau yang mutakhir dan terdengar ringan-ringan saja. Pada akhirnya perkembangan musik jazz mendegradasi jazz itu sendiri. Seperti kata Suka Hardjana dalam bukunya Musik Antara Kritik dan Apresiasi (Penerbit Buku Kompas, Jakarta-red), “…saat ini agak sukar membedakan mana jazz yang benar-benar jazz, jazz yang setengah jazz, jazz yang campur-campur, dan jazz yang bukan jazz.” Yang mana pilihan anda? (Sonny)

Dari berbagai sumber