Susahnya ide selalu datang saat aku harusnya sudah tidur. Jadinya malam-malam selalu terjaga buat menuliskan ide-ide sebelum melompat keluar dari benak dan hilang. Karena seringnya melek malam, aku dijuluki Lowo oleh almarhum ayah. Jadilah si lowo ini, sang kelelawar bergentayangan menebarkan kisah....
Kamis, 28 Mei 2009
Beringin Kembar itu Takluk
Bukan mitos ini yang jadi titik fokus. Tetapi bahwa ternyata amatlah sulit untuk berjalan dengan mata tertutup melintasi tengah-tengah beringin kembar itu. Walaupun jarak yang membentang antara kedua pohon itu cukup besar, paling tidak 10 meter, nyatanya banyak orang yang tak berhasil melakukan hajatnya, melintas dengan mata tertutup. Ada yang berhenti sebelum waktunya, ada yang berjalan melenceng jauh dari tujuan, bahkan ada juga yang tak berani melakukan. Mungkin terlalu terpengaruh tahayul, takut kualat, kesambet dan sebagainya. Tetapi ada pula yang berhasil dengan sukses berjalan melintas. Baik setelah banyak kali mencoba, maupun mereka yang langsung sukses pada kali pertama.
Aku termasuk yang sering melakukannya. Dan tak pernah sekalipun berhasil. Berapa kali pun mencoba. Malah satu usahaku membawa hasil yang mengejutkan. Sungguh tak masuk logika. Dalam satu usahaku, yang pertama dan dengan keyakinan penuh untuk berhasil dan harus berhasil, aku melakukan belokan 90 derajat, tanpa terasa, dan kontan melenceng dari sasaran yang seharusnya tinggal beberapa langkah lagi. Temanku yang memandu (dibolehkan untuk memandu tapi dilarang memberikan arahan apalagi menuntun) dengan bersuara sehingga aku bisa mendengar (mengira-ngira) arah suaranya sampai heran. Semenjak berjalan dari titik awal aku sudah berjalan lurus, selurus benang basah yang menjuntai. Hingga pada satu titik (hanya sekitar 5 langkah dari sasaran)tiba tiba aku berhenti, merasa ragu, dan kemudian berjalan lagi hanya dengan arah yang berbeda. melenceng ke kiri 90 derajat, tegak lurus dengan arah yang seharusnya. Sehingga ketika akhirnya aku berhenti dan membuka penutup mata, pohon-pohon itu ada di samping kananku, bukan di depanku seperti yang seharusnya. Setelah itu seperti tak mau kalah, aku mencoba dan mencoba lagi. Tanpa hasil. Hingga akhirnya aku menyerah. Tak pernah ingin mencoba lagi.
Hingga akhirnya sampai beberapa waaktu kemudian, sekitar satu minggu yang lalu aku kembali ke tempat itu. Kali ini hanya sebagai pengantar, pacarku yang belum pernah berkunjung ke tempat itu. Dan ketika dia mencoba pertama kalinya, dengan panduan dariku yang sangat konstan, "Yak, terus...terus...terus..." (aku tak ingin dia menabrak orang lain atau terantuk), dia langsung berhasil. Senang rasanya ketika melihat seringainya setelah mengetahui dirinya langsung berhasil pada kali pertama. Sungguh senang dan akupun ikut tersenyum. Hanya sampai ketika dia memintaku untuk mencoba. Pacarku itu sudah mendengar cerita tentang pengalamanku dengan beringin kembar itu. Dia pun tahu aku sudah tak bernafsu mencoba lagi. Berapa kali pun aku meyakinkan dia bahwa aku takkan berhasil dia tak mau mendengar. Sedikit mengancam dia pun memaksaku untuk mencoba. Akhirnya dengan perasaan ingin menghindari konflik, aku menurut. Kali ini tanpa target, tanpa memikul beban harus berhasil, nothing to lose dan hanya ingin menyenangkan hati kekasihku, aku melangkah. Lurus dan melintasi ruang di antara dua pohon kembar itu.
Tak habis pikir, bahkan belum sepenuhnya memahami kalau aku telah berhasil aku menyambut kekasihku yang berlari dengan tangan terbuka. Di tengah-tengah dua pohon berinin kembar kami berpelukan. Aku berhasil!! Bahkan di saat aku tak punya keinginan untuk berhasil. Bahkan di saat aku tak memercayai diriku sendiri bahwa ada kemungkinan aku akan berhasil. Yang kurasakan waktu melangkah pertama kali sungguh campur aduk. Takut menabrak, tersandung dan rasa ingin menyerah. Namun ada satu motivasi yang mengalahkan semua perasaan itu sehingga aku mampu berjalan tanpa ragu. Keyakinan yang diberikan oleh kekasihku tercinta. Sedetik pun dia tak pernah meragukanku. Dan rasa percayaku kepadanya bahwa dia takkan membiarkanku menabrak atau tersandung dan jatuh.
Sebuah pelajaran berharga dibeberkan kepadaku waktu itu. Yaitu keyakinan. Betapa berharganya sebuah keyakinan baik yang kita berikan kepada orang lain maupun yang orang lain berikan kepada kita. Begitu kuatnya keyakinan itu, hingga di saat kita sudah menyerah, keberhasilan akan menghampiri. Aku sudah menyerah. Tapi keyakinan yang dirasakan oleh kekasihku bahwa aku bisa berhasil telah menggerakkanku. Pun keyakinan yang kurasakan akan dukungan dan bantuan sang kekasih telah membawaku meraih kemenangan. Kenapa kita harus ragu atas kemampuan kita sendiri bila orang lain saja bisa yakin kalau kita akan berhasil? Cinta, keyakinan dan kepercayaan bisa membuat orang buntung melompat, orang buta berlari, dan orang menyerah mencoba lagi. Memang ini cuma masalah sepele. Aku tidak memenangkan piala atau uang jutaan. Tetapi aku memenangkan cinta, keyakinan dan kepercayaan orang yang paling aku sayangi. Rasanya seperti aku telah menaklukkan seisi bumi. Hari itu sang beringin kembar yang keramat telah takluk. Aku bukan orang pertama yang menaklukkannya. Tapi hari itu aku keluar sebagai juara. Aku dan kekasihku tercinta.
buat /RS
terima kasih atas cinta, keyakinan dan kepercayaanmu
Jumat, 28 Maret 2008
The Seven Ages of Men
Anda bisa mengira-ngira sendiri pada usia berapa saja tahap-tahap tersebut berlangsung, tergantung perkembangan kedewasaan tiap pelaku. Tiap lelaki tentu saja berbeda. Saya sendiri mengalami hampir semua tahap itu. Bahkan saya mengakui bahwa saat ini saya sedang dalam tahap terakhir. Krisis paruh baya? Mungkin. Kita sebagai manusia dewasa seringkali mengingkari hadirnya seorang anak-anak dalam diri kita walaupun pada akhirnya harus mengakui enaknya menjadi seorang anak kecil yang jujur, polos dan bebas kontaminasi.
Terlepas dari itu semua, saat ini saya sedang menikmati terwujudnya keinginan dan kesenangan menjadi seorang jurnalis atau seorang penulis. Bukan dilihat dari segi materi, tapi lebih dari sisi kepuasannya saja. Walaupun tak disebutkan di atas, saya akan menggolongkan keinginan menjadi seorang jurnalis pada tahap kedua. Ketika kecil saya suka membayangkan diri menjadi tokoh superhero favorit saya seperti Superman atau Spiderman. Kedua tokoh itu memiliki alter-ego seorang jurnalis, Clark Kent yang seorang wartawan Daily Planet dan Peter Parker yang seorang fotografer Daily Bugle. Pada masa itu saya memiliki rasa kagum yang sangat besar terhadap profesi wartawan atau jurnalis. Nampaknya mereka adalah orang-orang yang pintar, banyak tahu. Sampai sekarang bahkan, saya paling tertarik melihat seorang jurnalis perempuan, apalagi yang cantik. Makanya sebagian besar perempuan terkenal yang saya gandrungi kebanyakan adalah jurnalis. Yang cantik-cantik jelas. Contohnya Kania Sutisnawinata, Ira Koesno, Zelda Savitri, Rahma Sarita, Fifi Aleyda Yahya, Ratna Dumila dan masih banyak lagi. Personifikasi seorang Lois Lane. Bahkan sebagian sudah terdaftar dalam friend list saya di Friendster, saking gandrungnya. Rasanya suka sekali melihat mereka, cantik dan pintar. Dua kualitas yang paling saya kagumi pada perempuan.
Kembali kepada pokok bahasan, pokoknya saya mengakui kebenaran yang diungkapkan oleh seorang penulis itu. The seven ages of men. Bahkan bisa dibilang sekarang saya sedang mengalami semua tahap sekaligus. Menurut The Secret, itu mah sah-sah saja tokh?
Kamis, 27 Maret 2008
Tentang Wimar Witoelar
Mungkin semua orang kenal, pernah melihat atau sekedar tahu orang yang namanya Wimar Witoelar ini. Badan tambun, rambut keriting, mata sipit. Pernah punya acara sendiri di televisi, dan sekarang punya lagi setelah sekian lama. Saya sendiri termasuk golongan orang yang tahu dan pernah lihat. Kenal? Belum. Mudah-mudahan akan kenal dalam waktu yang tidak lama lagi. Entah kenapa saya membuat tulisan ini. Saya merasa tidak punya kapasitas apa-apa untuk menulis tentang Pak Wimar. Mungkin tulisan ini merupakan sebuah ‘siasat’ untuk bisa kenalan dengan beliau. Akhir-akhir ini saya punya keinginan besar untuk punya kenalan orang-orang terkenal dan pintar macam beliau. Bisa bilang dia pintar, padahal belum kenal? Oke, kita listing prestasinya. Pengusaha sukses, seperti yang sudah disebutkan di atas beliau adalah bintang acara di televisi, tulisan-tulisannya dimuat di berbagai macam media, dan pernah jadi juru bicara presiden. Cukup?
Jika ada dua pilihan : kenalan dengan Wimar Witoelar atau kenalan dengan Luna Maya? Pasti saya sabet semua pilihan tersebut. Masalahnya di sini bukanlah terlihat seperti apa orangnya. Secara fisik Pak Wimar bukanlah tandingan Luna Maya. Tapi tetap saja mereka berdua tidak bisa dibandingkan. Masing-masing berdiri di ranah yang berbeda. Fungsinya berbeda. Tapi keduanya sama-sama hebat, buat saya.
Lupakan Luna, kembali ke Pak Wimar. Saya selalu bertanya-tanya, orang-orang macam apa yang jadi pengagum beliau? Tentu saja kalau dibandingkan, saya berani bertaruh, jumlah penggemar Luna Maya pasti jauh lebih banyak daripada jumlah penggemar Pak Wimar (sedikit kembali ke Luna). Saya pikir penggemar Pak Wimar banyak dari kalangan profesional, akademisi, politisi, seniman, orang-orang media atau paling tidak orang-orang yang suka baca segala macam buku atau tulisan (benar tidak, Pak?).
Saya pernah baca buku beliau, A Book About Nothing, sebuah buku kumpulan tulisannya yang pernah dimuat di majalah
Sampai di sini saya masih belum tahu maksud tulisan ini. Basic knowledge saya masih belum banyak untuk membuat tulisan tentang Wimar Witoelar. Orang kenal saja tidak. Terus apa maksud tulisan ini? Analisis yang terstruktur? Bukan. Suatu usaha untuk mengkultuskan seseorang? Wuih! Memangnya Pak Wimar pantas dikultuskan? Saya yakin beliau pasti ndak mau dikultuskan. Apa lagi sampai dibuatkan patungnya.
Pokoknya tiba-tiba saja saya pengen menulis tentang beliau. Dasarnya simple saja. Rasa kagum terhadap beliau. Rasa ingin mengenal beliau secara pribadi. Mungkin sedikit alasan, karena editor saya menekankan pentingnya banyak berlatih menulis artikel. Rasanya senang kalau bisa ngobrol dengan beliau. Minimal chatting lewat Yahoo Messenger. Atau memasukkannya ke dalam friend list di Friendster atau Facebook. Jadi rasanya mungkin benar juga maksud tulisan ini adalah siasat biar Pak Wimar mau kenalan dengan saya. Pasti saya akan terus-terusan berhubungan dengan Pak Wimar kalau sudah kenal. Lewat email, sms (karena biaya telepon mahal), chatting atau ketemu terus ditraktir ngupi-ngupi sambil ngobrol about nothing.
Dapat kesempatan untuk mengorek isi kepala Pak Wimar. Curi-curi ilmu lah. Wah, enaknya! Sampai suatu saat saya mulai jarang berhubungan dengan beliau. Itu tandanya saya sudah mulai sering chatting, sms-an (karena biaya telepon mahal) dan ketemu Luna Maya…
Menjadi Kaya
Sebuah anekdot senantiasa menggelitik akal sehat saya.
Syahdan, Abunawas sedang kumat isengnya. Dia pergi mengunjungi si Fulan, orang terkaya di desanya.
Katanya, “Wahai Fulan. Benarkah kau orang terkaya di desa kita ini?”
Jawab Fulan, “Wahai Abunawas. Benarlah itu adanya.”
“Berapa jumlah kekayaanmu?” selidik Abunawas kemudian.
“Tak kurang dari sepuluh ribu keping uang emas,” bangga si Fulan.
“Maukah kau jika kuberi seribu keping uang emas?” tanya Abunawas.
“Oh, jelas! Siapa pula yang tak mau?” kata si Fulan sambil menyeringai lebar.
“Wahai temanku Fulan yang
Kontan seringai Fulan lenyap berganti kerut di dahi.
“Kenapa pula kau berkata begitu?” tanya Fulan kebingungan.
“Kau bilang punya tak kurang dari sepuluh ribu keping uang emas. Tapi kau masih silau dengan seribu keping. Oh, sahabatku yang
Saya pernah dan rasa-rasanya masih ingin menjadi orang kaya raya. Tapi mungkin kini pengertian saya tentang kekayaan banyak bergeser. Kaya yang saya pahami dulu adalah memiliki setumpuk uang dan terus ingin menumpuknya. Jika saya menghabiskan setumpuk, masih akan ada setumpuk lagi untuk dihabiskan, dan setumpuk lagi kemudian, dan terus lagi. Pendek kata, definisi kaya adalah memiliki lebih, mungkin lebih dari yang saya butuhkan.
Tapi sekarang, mudah-mudahan saya tidak munafik, pengertian itu telah berubah. Kaya adalah tidak merasa kekurangan. Bagaimana kita bisa merasa tidak kekurangan? Yaitu bila semua kebutuhan kita terpenuhi. Secara ekstrim bisa dikatakan bila kita telah merasa tak memerlukan apa-apa lagi, paling tidak secara materi. Buat apa kita menumpuk kekayaan jika hanya ditumpuk? Uang takkan berarti apa-apa jika hanya ditumpuk, tidak dimanfaatkan, tidak dibelanjakan. Buat apa menumpuk kekayaan jika mendatangkan rasa takut? Takut uang kita hilang, dicuri, habis. Tak tenang jadinya. Hati kita dikuasai ketakutan, kekuatiran. Hati kita jadi miskin. Inilah yang terjadi di negeri kita. Banyak orang menumpuk kekayaan. Sudah kaya dan berkuasa, masih terasa kurang. Akhirnya hak orang dilangkahi. Apa saja dijalani, biar tambah kaya. Jadi maling, korup. Yang model begini mah segudang di
Kaya hati ternyata lebih penting. Bikin tenteram, damai. Toh uang hanya titipan. Dalam setiap jumlah rezeki yang kita terima, sebagian adalah hak orang lain. Uang adalah amanah. Harus mendatangkan manfaat buat orang, dan buat kita sendiri. Kalau hanya ditumpuk, apa manfaatnya? Bukan berarti kita harus royal. Tebar-tebar uang, tidak memperhatikan keperluan kita. Sejahterakan diri sendiri, baru bisa bederma. Kalau buat kita sudah cukup, sisanya sedekah.
Jadi sekarang bahasanya sudah berubah. Saya tidak lagi ingin jadi orang kaya raya. Saya ingin jadi orang yang serba cukup, tidak kekurangan. Yah, begitulah. Cukup satu rumah, satu apartemen, satu pulau, satu helikopter, satu pesawat pribadi, satu yacht, satu Harley Davidson, satu Ferrari, satu Maybach, satu Bentley, satu…. hehehehehehe….
Aku Ingin Bangsa Ini Aku Tak Ingin Bangsa Ini
Aku tak ingin ada orang yang kalah lalu mengumpulkan orang banyak dan membayar mereka untuk menggoyang yang menang.
Bilang yang menang itu curang, menuntut hitung ulang atau mulai merusak dan bakar-bakar.
Kalau tim kesayangan ditundukkan, tim lawan dilempari. Wasit dikejar, dipukuli. Stadion dirusak, mobil dibakar, tawuran, jalanan jadi mcet total. Wajah bangsa dicoreng. Pengurus dibilang tak becus, wajar. Wong pimpinannya saja narapidana. Di dunia ini mana ada organisasi besar yang pimpinannya duduk di balik jeruji penjara? Adanya ya di Indonesia. Disuruh mundur tak mau. Seperti tak punya malu.
Aku ingin bangsa ini legowo, berhati besar.
Aku tak ingin lihat birokrat memanfaatkan jabatan, mempersulit orang.
Biar urusan cepat selesai minta disogok, dikasih uang. Padahal sudah digaji untuk bekerja, melayani orang
Aku ingin bangsa ini jujur, tidak asal cari peluang.
Aku ingin bangsa ini menghargai pegawainya. Kasih mereka bayaran tinggi biar tidak terus cari sampingan.
Aku tidak ingin lihat orang buang sampah sembarangan.
Aku tidak ingin lihat orang ngetem, bikin macet jalanan.
Aku tidak ingin lihat orang nyebrang seenaknya.
Aku tidak ingin lihat orang melanggar peraturan.
Aku tidak ingin lihat orang gelantungan di bus, naik di atap gerbong kereta.
Kalau jatuh, bikin repot aparat. Nanti masuk televisi. Nanti anak-anak kecil sering nonton berita orang mati jatuh dari kereta. Lihat orang hancur berdarah-darah jadi biasa.
Aku ingin lihat bangsa ini disiplin, tahu aturan.
Aku tak ingin lihat orang digusur. Tak ingin serba salah.
Dibiarkan, merusak pemandangan, bikin kotor, kumuh, jorok, bikin malu.
Digusur, kasihan, tak berperikemanusiaan, tak tahu mau diapakan.
Kalau sudah peraturan ya ditegaskan. Tidak boleh bangun rumah di sini. Tak boleh berjualan di sini.
Jangan hari ini digusur lalu ditinggal. Lama-lama ada yang bikin rumah lagi. Kapan-kapan digusur lagi. Begitu terus tak ada henti. Apa ini jadi ladang petugas cari peluang?
Aku tak ingin lihat fasilitas umum tak dipelihara,lalu rusak. Katanya tak ada biaya.Lalu buat apa orang bayar pajak? Dikejar-kejar, dihimbau-himbau, kalau ada yang mau bayar kadang-kadang dipersulit. Peraturannya kelewat banyak. Malah orang harus kursus segala biar ngerti masalah pajak.
Aku masih ingat orang diberi gelar pahlawan kalau mau bayar pajak. Orang bayar pajak itu kewajiban, kok.
Kalau uang pajak sudah terkumpul, tak jelas buat apa. Negara ini seperti kekurangan uang terus. Apa uang pajak hanya untuk bikin tebal kantong segelintir orang saja?
Aku ingin bangsa ini bertanggung jawab.
Begitu juga soal bayar iuran.
Listrik itu barang dagangan. Kalau orang banyak yang beli harusnya makin untung. Ini malah orang suruh berhemat. Kalau tidak listriknya habis. Harga minyak mahal jadi alasan. Salah sendiri kenapa bikin listrik pakai minyak? Benahi dulu perusahaan. Singkirkan tikus-tikus yang bikin PLN jadi ATM rombongan. Perbaiki pelayanan. Jangan sampai listrik kebanyakan mati, tapi maunya iuran dinaikkan.
Kembangkan pengetahuan. Hari gini kok cuma minyak yang jadi andalan.
Aku ingin bangsa ini makin pintar. Buat terobosan.
Aku tidak ingin bangsa ini picik.
Kalau akhlak bangsanya rusak, majalah seronok jadi makanan. Situs porno mau diharamkan. Si Inul tdak boleh ngebor-ngeboran.
Seperti tidak ada lagi kebebasan. Katanya negara demokrasi. Kenapa sampai dunia maya saja diperdebatkan. Mana hak pribadi orang? Harusnya semakin dewasa. Kalau tidak suka yang pornografi dan pornoaksi, ya jangan lihat. Jangan ancam orang yang mau lihat. Jangan asal bilang orang sesat. Katanya yang seronok bikin orang blingsatan, merusak iman. Ah, dasar orangnya saja. Biar pakai baju rapat, kalau memang otak ngeres, bisa kelihatan telanjang.
Kalau sudah begitu, agama dijadikan alasan. Alasan buat demo besar-besaran, menebar ancaman dan kebencian. Pakaian santri, kelakuan preman.
Juga kalau di teve banyak adegan kekerasan. Acara gulat dagelan jadi sasaran. Stasiun teve yang disalahkan. Katanya nggak mendidik. Anak kecil jadi ikut-ikutan. Malah sampai jatuh korban.
Kok stasiun teve disuruh mendidik? Lalu buat apa ada orangtua. Lihat anaknya nonton gulat dibiarkan. Padahal acaranya diputar larut malam. Orangtua macam apa yang membiarkan anaknya nonton teve malam-malam? Kalau tidak suka
Aku ingi bangsa ini luas wawasan. Hargai pilihan.
Aku tidak ingin bangsa ini bodoh.
Pendidikan tak diperhatikan. Banyak orang miskin, tidak bisa sekolah. Banyak bangunan sekolah hampir rata dengan tanah. Guru-guru tidak diupah layak. Malah ada seorang kepala sekolah jadi pemulung sampah. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi tanya saja mereka. Pasti mereka lebih senang digaji banyak. Mereka tidak butuh gelar pahlawan. Mereka butuh uang buat makan. Kalau perut kenyang, mengajar jadi semangat.
Apa lagi kalau sekolah digratiskan. Makin banyak yang sekolah, makin banyak yang pintar. Makin pintar bangsa ini jadinya. Kalau pintar, bisa cari kerja. Kalau pintar cari kerja, bangsa ini tidak lagi dipenuhi orang-orang miskin. Tidak ada lagi anak-anak kecil ngamen di perempatan jalan. Tidak ada lagi anak-anak kecil diperdagangkan.
Tidak perlu lagi jadi TKW. Pergi jauh-jauh ke negeri Jiran. Pulang tanpa bayaran, malah remuk redam, babak belur, mati, atau tidak bisa pulang karena jadi tahanan. Katanya karena membunuh sang majikan. Kalau sudah begini, pemerintah tak mau turun tangan. Padahal para TKW itu sumber devisa, nafkah negara. Itu urusan PJTKI, negara jangan disalahkan. Pemerintah kok jadi kelihatan tidak pintar.
Aku ingin bangsa ini pintar.
Aku tak ingin bangsa ini jadi preman.
Paling menakutkan preman yang pintar. Bikin perkumpulan atau organisasi
Kalau waktu puasa sibuk merazia. Rumah makan dan kafe yang buka dihakimi ramai-ramai. Katanya menjaga kesucian Ramadhan. Kok malah bikin keributan? Bukankah sudah ada aturan? Kalau bulan puasa tidak boleh sembarangan.
Aku ingin bangsa ini aman.
Aku tidak ingin bangsa ini serakah.
Sudah kaya masih jadi maling. Korupsi sana-sini. Rebutan jabatan. Rebutan tempat basah. Rebutan kursi dewan. Rebutan kepentingan.
Nasib rakyat jadi mainan. Jangankan diperjuangkan, malah dimanfaatkan. Waktu pemilihan, janji-janji ditebarkan. Kalau sudah menang semua dilupakan. Yang penting sudah punya kedudukan. Perut sendiri diutamakan. Jadi tambah pintar ngomong. Politik praktis memang mengesankan.
Dewan perwakilan jadi tempat cari uang. Bikin anggaran dibesar-besarkan. Minta laptop, biaya jalan-jalan studi perbandingan ke luar negeri, minta teve plasma buat bagus-bagusan walau tak pernah ditonton. Semua bukan tanpa alasan. Biar kinerja jadi tambah bagus, melayani masyarakat biar tambah relevan dan signifikan.
Kalau rapat lamanya sampai bulanan. Nginap dan melobi maunya di hotel-hotel mewah, padahal di gedung DPR banyak ruangan. Bisa dibayangkan berapa biayanya. Biaya rapat, konsumsi, penginapan. Bisa sampai milyaran. Coba kalau biaya rapat dipakai buat kasih makan orang kelaparan. Atau bantu pengungsi bencana alam. Atau bikin sekolah baru. Atau…
Senin, 24 Maret 2008
Jazz
Definisi musik jazz yang dijabarkan oleh gitaris Jubing Kristianto dalam buku yang ditulisnya, Gitarpedia Buku Pintar Gitaris (terbitan Gramedia,
Kamus besar bahasa Inggris Mirriam-Webster menuliskan: musik Amerika yang dikembangkan dari ragtime dan blues dan dikarakterisasi oleh ritme-ritme propulsive yang disinkopasi, permainan ensambel polifonik, berbagai tingkat improvisasi, dan seringkali menggunakan distorsi yang disengaja dari pitch dan timbre. Istilah jazz pertama kali dipakai kira-kira pada tahun 1917. Asal kata jazz sendiri tidak pernah benar-benar diketahui. Kemungkinan kata ini berasal dari bahasa prokem orang-orang keturunan Perancis di daerah
Memang, jazz identik dengan kaum elit. Sudah dari sono-nya musik ini selalu menjadi pilihan bagi para saudagar kaya, pesohor maupun kaum bangsawan yang slalu menghadiri pesta dengan tuxedo dan gaun-gaun mahal. Padahal cikal bakal musik jazz adalah musik yang awalnya dimainkan oleh kaum yang terbuang, budak-budak hitam dari Afrika. Entah kapan dan di mana kontradiksi ini telah lama menguap.
Di Indonesia sendiri musik jazz telah menempuh perjalanan yang tidak pendek. Pada awalnya musik ini dibawa oleh bangsa Eropa, pemerintahan kolonial Hindia Belanda di saat yang kurang lebih sama dengan booming-nya era jazz di Amerika Serikat. Selalu dimainkan di hotel-hotel mewah atau di rumah-rumah para pejabat kolonial, menyebabkan musik ini menemui kondisi yang sangat eksklusif. Tidak semua orang dapat menikmatinya. Hanya yang berkedudukan tinggi, berkoneksi dan tentu saja, berkuasa dan berduit. Bukan musiknya kaum papa dan pinggiran (baca: terjajah). Barangkali inilah salah satu sebab musik jazz tak pernah merakyat di Tanah Air. Mungkin sampai sekarang.
Jazz telah mendunia. Menjadi konsumsi global. Dalam perjalanannya, musik ini telah berkembang menjadi banyak sub-genre. Persinggungannya dengan banyak faktor, kondisi geografis, ragam budaya dan jenis musik lain, telah memperkaya musik ini. Pada awalnya jenis yang paling populer adalah swing, dimainkan oleh sebuah big-band yang didominasi alat musik tiup. Biasanya dipakai untuk mengiringi pesta dansa. Para pelopor genre ini adalah nama-nama legendaris seperti Benny Goodman, Count Basie, Tommy Dorsey, Duke Ellington dan Benny Miller. Kemudian muncullah nama-nama seperti Charlie Parker dan Dizzie Gillespie. Mereka menganggap
Kondisi geografis juga mulai memberikan warna tersendiri pada musik jazz. Pada tahun ’60-an, seorang saksofonis jazz Amerika Serikat bernama Stan Getz dan seorang komponis-pianis Brazil Antonio Carlos Jobim memperkenalkan sejenis musik latin ke negeri Paman Sam dan segera saja bossa nova mulai mendunia. Di Inggris pada tahun ’80-an lahirlah sentuhan Eropa yang mengambil bentuk British funk dan acid jazz yang diusung oleh nama-nama grup band seperti Level 42 dan Incognito. .Percampuran antar genre melahirkan jazz rock dan fusion. Musik jazz juga melahirkan banyak legenda. Mulai dari yang sudah almarhum seperti trumpetis Miles Davis yang memelopori cool jazz, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald, Billie Holiday, yang gaek tapi masih aktif seperti Tony Bennet, Al Jarreau, pianis Dave Grusin, sampai yang muda-muda dan penuh energi seperti Harry Connick.Jr, Jamie Cullum, Michael Buble dan Norah Jones.
Kini musisi-musisi jazz handal sudah tidak lagi dimonopoli oleh nama-nama beken dari negeri Paman Sam. Negara-negara Eropa, Amerika Selatan bahkan
Festival-festival musik jazz juga banyak diadakan. Beberapa yang melegenda adalah North Sea Jazz Festival di Belanda, Toronto Jazz Festival di Kanada, dan New Orleans Jazz & Heritage Festival di Amerika Serikat, tanah kelahiran musik ini. Festival-festival tahunan bertaraf internasional semacam ini selalu menjadi tolok ukur perkembangan musik jazz dunia.
Bagaimana dengan perkembangan musik jazz di Tanah Air? Pada awal tahun ’90-an lahirlah festival Jak Jazz yang dimotori oleh legenda jazz
Pada era ’80-an khazanah musik
Dunia jazz Indonesia hanya meninggalkan tempat bagi nama-nama lama seperti almarhum Jack Lesmana, almarhum Bill Saragih dan almarhum Nick Mamahit, Kiboud Maulana, Buby Chen atau Mus Mujiono. Hampir tidak ada ruang bagi regenerasi. Walaupun kini telah banyak bermunculan nama-nama baru dan segar seperti Malik and d’Essentials, Ecoutez dan Parkdrive tetap saja mereka memilih jalur aman. Walaupun kerap tampil dalam festival-festival jazz lokal, mereka mengaku membawakan lagu-lagu pop yang jazzy dan tetap emoh dibilang memainkan musik jazz. Untungnya masih ada segelintir orang muda yang setia dan peduli pada musik jazz yang mainstream. Mereka berkumpul, memainkan dan menikmati musik jazz, walaupun hanya untuk kalangan terbatas. Contohnya adalah apa yang dilakukan para orang muda yang membentuk suatu komunitas yang diberi nama Komunitas Jazz Kemayoran. Tetapi, komunitas ini tetap saja tampil secara terbatas, baik bagi anggotanya maupun peminatnya. Tidak mampu menjangkau masyarakat luas. Begitu pun, sebenarnya banyak talenta-talenta muda yang menggemari jazz. Hanya saja media bagi mereka untuk tampil dirasa masih sangat kurang. Mereka kebanyakan unjuk gigi dalam lomba-lomba bagi grup musik yang biasanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah musik yang disokong oleh produk alat musik terkenal. Tetapi, pembinaan selanjutnya seperti berjalan di tempat. Seperti tak ada pihak yang mau memberikan perhatian lebih kepada mereka, apalagi mengajak mereka masuk dapur rekaman. Sekali lagi, sulit menjual musik jazz.
Musik jazz, seperti semua karya seni lain, memang dinamis. Dalam perjalanan usianya yang panjang, semakin berkembang dan menghadirkan banyak warna.
Dari berbagai sumber