aku bercerita
katamu ceritaku berbicara dengan hatimu
membuatnya nyaman
dan membuatmu lelap
walau kau tertidur
aku terus bercerita
kepada hatimu
karena kuyakin hatimu belum tertidur
hatimu terus mendengar
betapa aku mencintaimu
dan hanya mencintaimu
aku berbagi denganmu
apa yang tak ingin kubagi
dengan orang selainmu
aku memberi
apa yang tak ingin kuberi
kepada orang selainmu
dan aku terus bercerita
kepada hatimu
agar esok saat kau terjaga
hatimu akan bercerita kepadamu
apa yang telah kuceritakan kepada hatimu
bahwa aku sangat mencintaimu
dan hanya mencintaimu
biar hatimu bercerita kepadamu
terus bercerita
sampai akhirnya kau percaya
apa yang hatimu katakan kepadamu
bahwa aku mencintaimu
hanya mencintaimu...
selamat tidur cintaku
mimpi indah.....
Susahnya ide selalu datang saat aku harusnya sudah tidur. Jadinya malam-malam selalu terjaga buat menuliskan ide-ide sebelum melompat keluar dari benak dan hilang. Karena seringnya melek malam, aku dijuluki Lowo oleh almarhum ayah. Jadilah si lowo ini, sang kelelawar bergentayangan menebarkan kisah....
Tampilkan postingan dengan label Witjaksono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Witjaksono. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Juli 2009
Angin
Mungkin ada kalanya
Kau ada di depan mata
Dan aku hanya berlalu
Tapi kini aku tak bisa hidup tanpamu
Bila cinta ibarat angin
Dia berembus meliuk liku
Menyelinap menembus belulang
Tapi tak seperti angin
Sekali waktu dia diam menyarang
Datang tak diundang
Bergayut tak mau pulang
Tajam menghujam hati
Berurat mencengkeram
Sang empunya hati tak berdaya
Menyerah kalah
Bagai tunduk kepada penguasa yang kejam..
Tapi cinta taklah kejam
Dia menerangi ruang yang kelam
Lunakkan keras yang getas
Cairkan beku yang kaku
Lembut membuai
Setegar apapun nyali
Kan lunglai saat ditinggal kekasih..
Kau ada di depan mata
Dan aku hanya berlalu
Tapi kini aku tak bisa hidup tanpamu
Bila cinta ibarat angin
Dia berembus meliuk liku
Menyelinap menembus belulang
Tapi tak seperti angin
Sekali waktu dia diam menyarang
Datang tak diundang
Bergayut tak mau pulang
Tajam menghujam hati
Berurat mencengkeram
Sang empunya hati tak berdaya
Menyerah kalah
Bagai tunduk kepada penguasa yang kejam..
Tapi cinta taklah kejam
Dia menerangi ruang yang kelam
Lunakkan keras yang getas
Cairkan beku yang kaku
Lembut membuai
Setegar apapun nyali
Kan lunglai saat ditinggal kekasih..
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Istana Kita
Aku bahagia sekali
Waktu kau melihat cermin itu
Yang ingin kau letakkan dalam kamarmu
Waktu kau memandang lampu-lampu
Yang ingin kau pasang di ruang tamu
Aku ingin kau ada dalam istanaku
Walau tak lebih dari sebuah gubuk
Namun kubangun sepenuh hati
Untuk menaungimu nanti
Tak terbayang jika kau tak pernah memasukinya
Aku tak menginginkannya
Aku yak ingin tinggal di mana kau tak ada
Walaupun itu sebuah istana
Dengan atap emas dan dinding permata
Aku ingin permaisuriku
Bahagia disampingku
Dalam rumah ini
Yang kubangun sepenuh hati
Waktu kau melihat cermin itu
Yang ingin kau letakkan dalam kamarmu
Waktu kau memandang lampu-lampu
Yang ingin kau pasang di ruang tamu
Aku ingin kau ada dalam istanaku
Walau tak lebih dari sebuah gubuk
Namun kubangun sepenuh hati
Untuk menaungimu nanti
Tak terbayang jika kau tak pernah memasukinya
Aku tak menginginkannya
Aku yak ingin tinggal di mana kau tak ada
Walaupun itu sebuah istana
Dengan atap emas dan dinding permata
Aku ingin permaisuriku
Bahagia disampingku
Dalam rumah ini
Yang kubangun sepenuh hati
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Tersesat
Bagaimana mungkin
Aku tersesat di dalammu
Dan tak mencari jalan keluar?
Apa yang ada di dirimu
Menarik tanganku
Hentikan langkahku
Dan aku pun terdiam dalam nyaman
Terduduk tak mau berdiri
Terbaring tak mau pergi
Tersesat tak mau kembali
Biarlah
Aku sudah kembali
Memang rumahku di sini
Dalam hatimu dalam dadamu...
Aku tersesat di dalammu
Dan tak mencari jalan keluar?
Apa yang ada di dirimu
Menarik tanganku
Hentikan langkahku
Dan aku pun terdiam dalam nyaman
Terduduk tak mau berdiri
Terbaring tak mau pergi
Tersesat tak mau kembali
Biarlah
Aku sudah kembali
Memang rumahku di sini
Dalam hatimu dalam dadamu...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Kamulah
Kamulah sayang
Kamulah kasih
Kamulah cinta...
Kamulah kasih
Kamulah cinta...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Luka 2
Aku memandang hidupku
Saat aku memandangmu
Itu darahku yang menetes
Jika tubuhmu terluka
Dadaku yang menahan sesak
Bila airmatamu menggelegak
Waktu tawamu membahana
Jiwaku melayang dalam bahagia
Hatiku panas membara
Seiring dendam yang kau rasa
Dan aku akan mereda dalam damai
Di akhir nanti ragaku kau buai
Saat aku memandangmu
Itu darahku yang menetes
Jika tubuhmu terluka
Dadaku yang menahan sesak
Bila airmatamu menggelegak
Waktu tawamu membahana
Jiwaku melayang dalam bahagia
Hatiku panas membara
Seiring dendam yang kau rasa
Dan aku akan mereda dalam damai
Di akhir nanti ragaku kau buai
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Luka
Saat mulutmu terkunci
Jiwaku terkurung
Menghantam dinding
Dibalut sepi
Saat wajahmu berpaling
Aku terbuang
Terkapar lemah
Mencium tanah
Saat kau beranjak
Aku tersesat
Kehilangan arah
Sendiri melangkah
Lukamu adalah perihku
Sakitmu deritaku
Senyummu bahagiaku
Hidupmu jiwaku...
Jiwaku terkurung
Menghantam dinding
Dibalut sepi
Saat wajahmu berpaling
Aku terbuang
Terkapar lemah
Mencium tanah
Saat kau beranjak
Aku tersesat
Kehilangan arah
Sendiri melangkah
Lukamu adalah perihku
Sakitmu deritaku
Senyummu bahagiaku
Hidupmu jiwaku...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Senin, 08 Juni 2009
Dunia Itu
Tiap kusentuh dirimu
Sebuah dunia lain terbuka untukku
Di mana lagu merdu mengalir bagai air
Di mana rindu tumbuh bagai bunga dan tinggal kupetik saja
Di mana jiwaku bebas tanpa raga
Melompat berlari mereguk cintamu
Memeluk awan yang dibuat dari doa dan harapan
Puisi cinta adalah satu-satunya bahasa
Wajahmu ada tatkala kumenoleh ke mana saja
Dunia itu milikku
Dunia itu milikmu
Di situ tempatmu menunggu
Di situ ku kan menuju
Dunia itu jauh dalam hatimu
Biar cintaku mengalir
Penuhi nadi tubuhmu
Beri degup getar asmara
Dan selamanya kan membara...
Sebuah dunia lain terbuka untukku
Di mana lagu merdu mengalir bagai air
Di mana rindu tumbuh bagai bunga dan tinggal kupetik saja
Di mana jiwaku bebas tanpa raga
Melompat berlari mereguk cintamu
Memeluk awan yang dibuat dari doa dan harapan
Puisi cinta adalah satu-satunya bahasa
Wajahmu ada tatkala kumenoleh ke mana saja
Dunia itu milikku
Dunia itu milikmu
Di situ tempatmu menunggu
Di situ ku kan menuju
Dunia itu jauh dalam hatimu
Biar cintaku mengalir
Penuhi nadi tubuhmu
Beri degup getar asmara
Dan selamanya kan membara...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Ingatkan
Ingatkan diriku
Agar jangan terlena karena tinggal di hatimu
Ingatkan aku tuk menjaga pintunya
Agar tetap terbuka untukku
Berikan cahaya untuk ruang-ruangnya
Agar penuh segarnya udara
Dan cegah hiasannya
Agar tak usang dan menua
Penuhi nyanyian sukacita
Indah semarak suasana
Dan bila senja telah tiba
Tangkupkan tirai jendelanya
Agar nyaman tenteram
Sejahtera aku menghuninya...
Ingatkan aku
Yang ada di hatimu
Selalu dan selalu
Agar senantiasa
Hangat menyambutmu
Agar jangan terlena karena tinggal di hatimu
Ingatkan aku tuk menjaga pintunya
Agar tetap terbuka untukku
Berikan cahaya untuk ruang-ruangnya
Agar penuh segarnya udara
Dan cegah hiasannya
Agar tak usang dan menua
Penuhi nyanyian sukacita
Indah semarak suasana
Dan bila senja telah tiba
Tangkupkan tirai jendelanya
Agar nyaman tenteram
Sejahtera aku menghuninya...
Ingatkan aku
Yang ada di hatimu
Selalu dan selalu
Agar senantiasa
Hangat menyambutmu
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
saat itu
Hatiku tanggal seiris
Setiap kubuat kau menangis
Dalam tiap tetes airmatamu
Ada sesalku disitu
Tak mampu kuberjanji
Takkan kusakiti kau lagi
Tapi bila itu terjadi
Kan kutanggalkan hatiku seiris lagi
Sebagai pengganti deritamu
Jadi pembalut lukamu
Dan takkan terhenti
Ucapan maaf beribu kali
Takkan mungkin sengaja kumenyakitimu
Hanya inilah bentuk janjiku..
Setiap kubuat kau menangis
Dalam tiap tetes airmatamu
Ada sesalku disitu
Tak mampu kuberjanji
Takkan kusakiti kau lagi
Tapi bila itu terjadi
Kan kutanggalkan hatiku seiris lagi
Sebagai pengganti deritamu
Jadi pembalut lukamu
Dan takkan terhenti
Ucapan maaf beribu kali
Takkan mungkin sengaja kumenyakitimu
Hanya inilah bentuk janjiku..
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
My
My body misses your touch
My eyes miss your presence
My nose misses your scent
My ears miss your laugh
My lips miss your kiss
My mind misses your being
My heart misses your love
I miss you...
My eyes miss your presence
My nose misses your scent
My ears miss your laugh
My lips miss your kiss
My mind misses your being
My heart misses your love
I miss you...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
bila kau tanya
Di mana letaknya hati
Siapa yang tahu
Hati yang kau bawa-bawa itu
Ternyata bukan milikmu
Tak pernah menempati lubang dalam dadamu
Kau tak pernah memilih
Hatimu memilih untukmu
Kau tak pernah merasa
Hatimu merasa untukmu
Bahkan saat hatimu bernyanyi
Kau hanya mendengar lagunya
Tiada kata mengalun dari mulutmu
Andai hatimu punya sayap
Dia akan terbang dari tubuhmu
Dan suatu saat kau takkan mengerti
Apa arti sesuka hati
Bila ia menemukan tambatan
Bukan dirimu yang menentukan
Dan bila saat ia bersemi
Kau kan tahu rasanya jatuh hati...
Takkan pernah ada jawaban
Mengapa hati tentukan pilihan
Siapa yang tahu
Hati yang kau bawa-bawa itu
Ternyata bukan milikmu
Tak pernah menempati lubang dalam dadamu
Kau tak pernah memilih
Hatimu memilih untukmu
Kau tak pernah merasa
Hatimu merasa untukmu
Bahkan saat hatimu bernyanyi
Kau hanya mendengar lagunya
Tiada kata mengalun dari mulutmu
Andai hatimu punya sayap
Dia akan terbang dari tubuhmu
Dan suatu saat kau takkan mengerti
Apa arti sesuka hati
Bila ia menemukan tambatan
Bukan dirimu yang menentukan
Dan bila saat ia bersemi
Kau kan tahu rasanya jatuh hati...
Takkan pernah ada jawaban
Mengapa hati tentukan pilihan
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Kamis, 28 Mei 2009
Beringin Kembar itu Takluk
Di jantung kota Jogjakarta, tepatnya dalam kompleks keraton kesultanan ada sebuah tempat yang bernama Alun-alun Kidul atau alun-alun selatan. Tampak layaknya alun-alun atau lapangan, mungkin dipakai sebagai tempat mengumpulkan bala tentara kerajaan sebelum berangkat perang, atau hanya sekedar upacara. Yang membuatnya tampak unik adalah dua batang pohon beringin besar yang berdampingan di pusat alun-alun itu. Buat orang yang sering berwisata ke Jogja tentu dua beringin kembar ini sudah tidak lagi terdengar asing. Memang tempat ini adalah salah satu objek pariwisata utama di Jogja. Jadi tak perlu banyak cerita untuk mendeskripsikan dua batang pohon renta nan tegar itu. Pun tak perlu banyak omong tentang mengapa beringin kembar itu jadi tujuan wisata banyak orang. Mitos mengatakan bahwa siapa saja yang bisa berjalan tepat melintasi ruang antara dua pohon tersebut dengan mata tertutup, akan mendapatkan banyak berkah. Percaya tidak percaya terserah.
Bukan mitos ini yang jadi titik fokus. Tetapi bahwa ternyata amatlah sulit untuk berjalan dengan mata tertutup melintasi tengah-tengah beringin kembar itu. Walaupun jarak yang membentang antara kedua pohon itu cukup besar, paling tidak 10 meter, nyatanya banyak orang yang tak berhasil melakukan hajatnya, melintas dengan mata tertutup. Ada yang berhenti sebelum waktunya, ada yang berjalan melenceng jauh dari tujuan, bahkan ada juga yang tak berani melakukan. Mungkin terlalu terpengaruh tahayul, takut kualat, kesambet dan sebagainya. Tetapi ada pula yang berhasil dengan sukses berjalan melintas. Baik setelah banyak kali mencoba, maupun mereka yang langsung sukses pada kali pertama.
Aku termasuk yang sering melakukannya. Dan tak pernah sekalipun berhasil. Berapa kali pun mencoba. Malah satu usahaku membawa hasil yang mengejutkan. Sungguh tak masuk logika. Dalam satu usahaku, yang pertama dan dengan keyakinan penuh untuk berhasil dan harus berhasil, aku melakukan belokan 90 derajat, tanpa terasa, dan kontan melenceng dari sasaran yang seharusnya tinggal beberapa langkah lagi. Temanku yang memandu (dibolehkan untuk memandu tapi dilarang memberikan arahan apalagi menuntun) dengan bersuara sehingga aku bisa mendengar (mengira-ngira) arah suaranya sampai heran. Semenjak berjalan dari titik awal aku sudah berjalan lurus, selurus benang basah yang menjuntai. Hingga pada satu titik (hanya sekitar 5 langkah dari sasaran)tiba tiba aku berhenti, merasa ragu, dan kemudian berjalan lagi hanya dengan arah yang berbeda. melenceng ke kiri 90 derajat, tegak lurus dengan arah yang seharusnya. Sehingga ketika akhirnya aku berhenti dan membuka penutup mata, pohon-pohon itu ada di samping kananku, bukan di depanku seperti yang seharusnya. Setelah itu seperti tak mau kalah, aku mencoba dan mencoba lagi. Tanpa hasil. Hingga akhirnya aku menyerah. Tak pernah ingin mencoba lagi.
Hingga akhirnya sampai beberapa waaktu kemudian, sekitar satu minggu yang lalu aku kembali ke tempat itu. Kali ini hanya sebagai pengantar, pacarku yang belum pernah berkunjung ke tempat itu. Dan ketika dia mencoba pertama kalinya, dengan panduan dariku yang sangat konstan, "Yak, terus...terus...terus..." (aku tak ingin dia menabrak orang lain atau terantuk), dia langsung berhasil. Senang rasanya ketika melihat seringainya setelah mengetahui dirinya langsung berhasil pada kali pertama. Sungguh senang dan akupun ikut tersenyum. Hanya sampai ketika dia memintaku untuk mencoba. Pacarku itu sudah mendengar cerita tentang pengalamanku dengan beringin kembar itu. Dia pun tahu aku sudah tak bernafsu mencoba lagi. Berapa kali pun aku meyakinkan dia bahwa aku takkan berhasil dia tak mau mendengar. Sedikit mengancam dia pun memaksaku untuk mencoba. Akhirnya dengan perasaan ingin menghindari konflik, aku menurut. Kali ini tanpa target, tanpa memikul beban harus berhasil, nothing to lose dan hanya ingin menyenangkan hati kekasihku, aku melangkah. Lurus dan melintasi ruang di antara dua pohon kembar itu.
Tak habis pikir, bahkan belum sepenuhnya memahami kalau aku telah berhasil aku menyambut kekasihku yang berlari dengan tangan terbuka. Di tengah-tengah dua pohon berinin kembar kami berpelukan. Aku berhasil!! Bahkan di saat aku tak punya keinginan untuk berhasil. Bahkan di saat aku tak memercayai diriku sendiri bahwa ada kemungkinan aku akan berhasil. Yang kurasakan waktu melangkah pertama kali sungguh campur aduk. Takut menabrak, tersandung dan rasa ingin menyerah. Namun ada satu motivasi yang mengalahkan semua perasaan itu sehingga aku mampu berjalan tanpa ragu. Keyakinan yang diberikan oleh kekasihku tercinta. Sedetik pun dia tak pernah meragukanku. Dan rasa percayaku kepadanya bahwa dia takkan membiarkanku menabrak atau tersandung dan jatuh.
Sebuah pelajaran berharga dibeberkan kepadaku waktu itu. Yaitu keyakinan. Betapa berharganya sebuah keyakinan baik yang kita berikan kepada orang lain maupun yang orang lain berikan kepada kita. Begitu kuatnya keyakinan itu, hingga di saat kita sudah menyerah, keberhasilan akan menghampiri. Aku sudah menyerah. Tapi keyakinan yang dirasakan oleh kekasihku bahwa aku bisa berhasil telah menggerakkanku. Pun keyakinan yang kurasakan akan dukungan dan bantuan sang kekasih telah membawaku meraih kemenangan. Kenapa kita harus ragu atas kemampuan kita sendiri bila orang lain saja bisa yakin kalau kita akan berhasil? Cinta, keyakinan dan kepercayaan bisa membuat orang buntung melompat, orang buta berlari, dan orang menyerah mencoba lagi. Memang ini cuma masalah sepele. Aku tidak memenangkan piala atau uang jutaan. Tetapi aku memenangkan cinta, keyakinan dan kepercayaan orang yang paling aku sayangi. Rasanya seperti aku telah menaklukkan seisi bumi. Hari itu sang beringin kembar yang keramat telah takluk. Aku bukan orang pertama yang menaklukkannya. Tapi hari itu aku keluar sebagai juara. Aku dan kekasihku tercinta.
buat /RS
terima kasih atas cinta, keyakinan dan kepercayaanmu
Bukan mitos ini yang jadi titik fokus. Tetapi bahwa ternyata amatlah sulit untuk berjalan dengan mata tertutup melintasi tengah-tengah beringin kembar itu. Walaupun jarak yang membentang antara kedua pohon itu cukup besar, paling tidak 10 meter, nyatanya banyak orang yang tak berhasil melakukan hajatnya, melintas dengan mata tertutup. Ada yang berhenti sebelum waktunya, ada yang berjalan melenceng jauh dari tujuan, bahkan ada juga yang tak berani melakukan. Mungkin terlalu terpengaruh tahayul, takut kualat, kesambet dan sebagainya. Tetapi ada pula yang berhasil dengan sukses berjalan melintas. Baik setelah banyak kali mencoba, maupun mereka yang langsung sukses pada kali pertama.
Aku termasuk yang sering melakukannya. Dan tak pernah sekalipun berhasil. Berapa kali pun mencoba. Malah satu usahaku membawa hasil yang mengejutkan. Sungguh tak masuk logika. Dalam satu usahaku, yang pertama dan dengan keyakinan penuh untuk berhasil dan harus berhasil, aku melakukan belokan 90 derajat, tanpa terasa, dan kontan melenceng dari sasaran yang seharusnya tinggal beberapa langkah lagi. Temanku yang memandu (dibolehkan untuk memandu tapi dilarang memberikan arahan apalagi menuntun) dengan bersuara sehingga aku bisa mendengar (mengira-ngira) arah suaranya sampai heran. Semenjak berjalan dari titik awal aku sudah berjalan lurus, selurus benang basah yang menjuntai. Hingga pada satu titik (hanya sekitar 5 langkah dari sasaran)tiba tiba aku berhenti, merasa ragu, dan kemudian berjalan lagi hanya dengan arah yang berbeda. melenceng ke kiri 90 derajat, tegak lurus dengan arah yang seharusnya. Sehingga ketika akhirnya aku berhenti dan membuka penutup mata, pohon-pohon itu ada di samping kananku, bukan di depanku seperti yang seharusnya. Setelah itu seperti tak mau kalah, aku mencoba dan mencoba lagi. Tanpa hasil. Hingga akhirnya aku menyerah. Tak pernah ingin mencoba lagi.
Hingga akhirnya sampai beberapa waaktu kemudian, sekitar satu minggu yang lalu aku kembali ke tempat itu. Kali ini hanya sebagai pengantar, pacarku yang belum pernah berkunjung ke tempat itu. Dan ketika dia mencoba pertama kalinya, dengan panduan dariku yang sangat konstan, "Yak, terus...terus...terus..." (aku tak ingin dia menabrak orang lain atau terantuk), dia langsung berhasil. Senang rasanya ketika melihat seringainya setelah mengetahui dirinya langsung berhasil pada kali pertama. Sungguh senang dan akupun ikut tersenyum. Hanya sampai ketika dia memintaku untuk mencoba. Pacarku itu sudah mendengar cerita tentang pengalamanku dengan beringin kembar itu. Dia pun tahu aku sudah tak bernafsu mencoba lagi. Berapa kali pun aku meyakinkan dia bahwa aku takkan berhasil dia tak mau mendengar. Sedikit mengancam dia pun memaksaku untuk mencoba. Akhirnya dengan perasaan ingin menghindari konflik, aku menurut. Kali ini tanpa target, tanpa memikul beban harus berhasil, nothing to lose dan hanya ingin menyenangkan hati kekasihku, aku melangkah. Lurus dan melintasi ruang di antara dua pohon kembar itu.
Tak habis pikir, bahkan belum sepenuhnya memahami kalau aku telah berhasil aku menyambut kekasihku yang berlari dengan tangan terbuka. Di tengah-tengah dua pohon berinin kembar kami berpelukan. Aku berhasil!! Bahkan di saat aku tak punya keinginan untuk berhasil. Bahkan di saat aku tak memercayai diriku sendiri bahwa ada kemungkinan aku akan berhasil. Yang kurasakan waktu melangkah pertama kali sungguh campur aduk. Takut menabrak, tersandung dan rasa ingin menyerah. Namun ada satu motivasi yang mengalahkan semua perasaan itu sehingga aku mampu berjalan tanpa ragu. Keyakinan yang diberikan oleh kekasihku tercinta. Sedetik pun dia tak pernah meragukanku. Dan rasa percayaku kepadanya bahwa dia takkan membiarkanku menabrak atau tersandung dan jatuh.
Sebuah pelajaran berharga dibeberkan kepadaku waktu itu. Yaitu keyakinan. Betapa berharganya sebuah keyakinan baik yang kita berikan kepada orang lain maupun yang orang lain berikan kepada kita. Begitu kuatnya keyakinan itu, hingga di saat kita sudah menyerah, keberhasilan akan menghampiri. Aku sudah menyerah. Tapi keyakinan yang dirasakan oleh kekasihku bahwa aku bisa berhasil telah menggerakkanku. Pun keyakinan yang kurasakan akan dukungan dan bantuan sang kekasih telah membawaku meraih kemenangan. Kenapa kita harus ragu atas kemampuan kita sendiri bila orang lain saja bisa yakin kalau kita akan berhasil? Cinta, keyakinan dan kepercayaan bisa membuat orang buntung melompat, orang buta berlari, dan orang menyerah mencoba lagi. Memang ini cuma masalah sepele. Aku tidak memenangkan piala atau uang jutaan. Tetapi aku memenangkan cinta, keyakinan dan kepercayaan orang yang paling aku sayangi. Rasanya seperti aku telah menaklukkan seisi bumi. Hari itu sang beringin kembar yang keramat telah takluk. Aku bukan orang pertama yang menaklukkannya. Tapi hari itu aku keluar sebagai juara. Aku dan kekasihku tercinta.
buat /RS
terima kasih atas cinta, keyakinan dan kepercayaanmu
Label:
essai,
essay,
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Kamis, 23 April 2009
tahta
benakku penuh wajahmu.bagai bunga memenuhi kamarku.tak ada pintu ke mana-mana.yang ada hanya pintu menujumu.entah kau di luar atau aku yang masuk ke dalammu.benakku penuh tatapmu.entah lelap atau jaga.matamu yang kulihat.entah kemana kau memandang.pada binar mataku atau ke dalam hatiku.yang kutahu hanya sejuk rasaku.sejak kukenal dirimu.jangan,kata batinku.jangan jauh dariku.di sini dekap aku.penuhi aku bagai bunga dalam kamarku.penuhi hidupku jangan sisakan ruang.hiasi istanaku.jadi ratu di sisiku.sampai tahta berakhir.merata jadi debu dan tanah.di bumi tempat kembali..
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
tempatnya cinta
cinta itu adanya padaku.cinta itu hanya untukmu.rumahku ada padamu.kepadamu aku kembali.hatiku jadi tempatmu.mimpi dan khayalmu.aku ini temanmu.raja dan abdimu.aku kini, nanti dan masa lalu.aku dirimu, tubuh dan darahmu.hanya satu, nama dan hadirmu.jadi akhir jalan dan hidupku..
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
a lifetime
when the stars shine
know that it won't be forever..
when the earth goes around the sun
be sure that it's not for always..
the sky won't be blue everyday..
the birds will stop singing and die..
the roses will cease from being bright red..
the sea will vanish..
the mountains will crumble..
people grow old
beauty will fade away..
but my love for you..
will stay around..
beyond a lifetime..
for two eternities...
i love you...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
ini satu
aku udara dalam dadamu
aku kata dalam ucapmu
jadikan aku alas tidurmu
jadikan aku naungan ragamu
aku sebentuk cinta dalam benakmu
bukan sekedar buah mimpimu
akulah mentari akulah bulan
akulah budak akulah tuan
hanya untukmu aku mewujud
kepada Penghuni hatimu aku bersujud
tiadalah tempat dan juga waktu
mampu mencegah pula jua membantah
kau, aku dan Dia kini satu
kitalah nanti, kini dan dulu
aku kata dalam ucapmu
jadikan aku alas tidurmu
jadikan aku naungan ragamu
aku sebentuk cinta dalam benakmu
bukan sekedar buah mimpimu
akulah mentari akulah bulan
akulah budak akulah tuan
hanya untukmu aku mewujud
kepada Penghuni hatimu aku bersujud
tiadalah tempat dan juga waktu
mampu mencegah pula jua membantah
kau, aku dan Dia kini satu
kitalah nanti, kini dan dulu
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
saat jauh
saat aku jauh
hanya hatimu yang kuajak bicara
kupeluk
dan kuajak bicara
kupeluk
dan kuajak bicara
tak ada lagi yang aku ingin
hanya masuk lebih dalam
dalam daging dan darahmu
begitu dalam
begitu sesat
dan tak tahu jalan keluar
keluar dari hatimu
tak mau aku keluar dari hatimu
jangan kau buang aku dari hatimu
aku ingin di dalam situ
begitu dalam
begitu sesat
tak tau jalan keluar
tak mau tahu jalan pulang
aku tak mau pulang
karena hatimu rumahku
saat aku jauh
saat aku dekat
aku tidur dalam rumahku
rumahku hatimu
di situ rumahku.........
hanya hatimu yang kuajak bicara
kupeluk
dan kuajak bicara
kupeluk
dan kuajak bicara
tak ada lagi yang aku ingin
hanya masuk lebih dalam
dalam daging dan darahmu
begitu dalam
begitu sesat
dan tak tahu jalan keluar
keluar dari hatimu
tak mau aku keluar dari hatimu
jangan kau buang aku dari hatimu
aku ingin di dalam situ
begitu dalam
begitu sesat
tak tau jalan keluar
tak mau tahu jalan pulang
aku tak mau pulang
karena hatimu rumahku
saat aku jauh
saat aku dekat
aku tidur dalam rumahku
rumahku hatimu
di situ rumahku.........
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
yang namanya rindu
yang namanya rindu itu tak punya rupa
tak pula punya masa
bisa bahagia bisa derita
seperti kini aku merindumu
hanya untuk ada di sampingmu
seusia zaman tak mau memejam
pandangi indah matamu
yang di dalamnya ada aku
bisa takkan menyingkir
bersatu jiwa sampai akhir
semua berawal dari satu itu
yang namanya rindu
tak ingin meminta
hanya ingin berdua
sampai Tuhan pisahkan kita...
tak pula punya masa
bisa bahagia bisa derita
seperti kini aku merindumu
hanya untuk ada di sampingmu
seusia zaman tak mau memejam
pandangi indah matamu
yang di dalamnya ada aku
bisa takkan menyingkir
bersatu jiwa sampai akhir
semua berawal dari satu itu
yang namanya rindu
tak ingin meminta
hanya ingin berdua
sampai Tuhan pisahkan kita...
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
my job
it's my job to worry..it's my duty to be troubled..not because you want me to.it's my pleasure to be sad.it's my honor to get hurt..because you're all i care about..i'd die for you.i'd live thru hell with you..i won't step into heaven if you're not by my side..i will stand any pain as long as you hold my hand.we are each other's misery.we are each other's blessing.together we will endure storm and rain.together we will taste paradise..that's what love all about..stay together..no matter what..
Label:
poem,
poet,
puisi,
sajak,
Sonny,
Sonny Ramelan,
syair,
Witjaksono
Langganan:
Postingan (Atom)