Tampilkan postingan dengan label short stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short stories. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2008

Bir Hitam

Dirinya tersentak bangun dari tidur ayam ketika dahinya terantuk kaca jendela taksi yang dingin berembun. Cuaca Dublin bulan Januari memang mengerikan. Jaket panjang musim dingin di atas kemeja denim dan sweater wol tebal serasa tak ada artinya. Tapi di luar sana, di sepanjang trotoar O’Connell Street, lalu lalang manusia menjelang jam makan siang nampak tak terusik musim dingin Irlandia. Tak heran banyak pemabuk berkeliaran di kota Dublin, di tengah hari sekalipun. Alkohol memang obatnya dingin yang menusuk tulang.

“Gila dinginnya! Hei, bilang sama si supir! Naikkan suhu pemanas,” katanya kepada teman seperjalanan di sampingnya.

Si teman yang sudah hafal sifat kawannya yang suka complaint hanya tersenyum. “Rasanya sudah mentok. Aku bisa melihat tombol pemanas di dashboard. Penuh diputar ke kanan,” sahutnya enteng.

Temannya yang bertubuh tambun pendek mengeluarkan gerutuan singkat. “Lagipula buat apa sih, kau memaksaku bangun pagi-pagi? Lebih baik tinggal di kamar hotel yang hangat. Untung salju tidak turun. Aku benci salju!”

“Apa yang kau harapkan? Memang begini Januari di Eropa,” jawab temannya yang langsing, berkaca mata dan berambut panjang sebahu itu.

“Aku kira London sudah parah dinginnya. Tapi ini benar-benar kelewatan! Aku hampir-hampir tak bisa merasakan jari-jariku sendiri,” lanjutnya. “Kurasa masih banyak tempat di Eropa yang lebih hangat. Aku jadi kepingin ke Ibiza.”

“Sesuaikan waktunya, dong! Kalau mau ke Ibiza waktu musim panas. Lebih banyak baju yang terbuka di sana saat itu,” jawab temannya sambil terkekeh.

“Aku tahu ini jalan-jalan gratis darimu buatku. Aku tak bisa seenaknya minta ke sana ke sini. Tak ada demokrasi kalau temanmu yang menanggung biaya perjalananmu.”

“Aku tahu itu,” jawab temannya lagi dengan senyum kemenangan yang benar-benar lebar pada wajahnya.

“Ya sudah, aku ikut saja,” tukasnya kalah. Atau mengalah. “Mau ke mana sih kita?” tanyanya lagi. Pandangannya tetap terarah ke pinggiran jalan di luar. Sesekali nampak beberapa orang tinker, gipsi khas Irlandia, dengan pakaiannya yang lusuh. Kelihatan sekali. Bahkan nampak berbeda jelas dengan para pemabuk, yang juga nampak dekil, yang bukan dari golongan orang-orang gipsi itu.

“Ke suatu tempat yang sudah tua sekali. Nanti kau juga tahu.”

“Perjalanan budaya lagi? Salah satu obyek wisata yang kau baca di sebuah buku? Otakmu itu sudah seperti perpustakaan saja. Dasar ensiklopedi berjalan!”

“Mau bagaimana lagi. Hobiku memang membaca dan selalu ingin tahu. You know,…”

I know, I know. You’d be surprised what you can find in a book. Ya, kan?”

“Itu juga. Tapi bukan itu yang mau aku bilang. Aku mau bilang I’m a hopeless romantic.”

Si tambun mengalihkan pandangan dari jalanan ke wajah temannya yang tersenyum garing. “Romantis? Kau tidak sedang jalan-jalan dengan seorang Irish girl bermata hijau yang kecantikannya seperti peri abad pertengahan. Kau sedang jalan dengan aku,” katanya sambil menunjuk hidungnya sendiri. “Seorang laki-laki yang meninggalkan istrinya sendirian di rumah demi sebuah pesiar gratis.”

“Jadi kau menyesal kuajak ke sini?”

“Bukan begitu. Hanya saja pilihan kata-katamu terkadang menggoncangkan jiwa orang yang mendengarnya. Romantis, heh heh,” kekehnya.

“Ah, sempit kau! Romantis tidak hanya soal cewek, tahu? Lagi pula aku lebih suka gadis tropis berambut gelap. Di sini terlalu banyak yang pirang.”

Men prefer blonde, you know?”

Not me, mate. Not me,” jawab temannya dengan dialek Gaelic.

“Oh, tadi kau seorang romantis. Sekarang apa? Seorang ahli bahan peledak dari IRA?”
Sang kawan tersenyum sambil menggerakkan alisnya naik turun. Hobinya memang banyak. Selain membaca, musik dan gila bola dia juga hobi menonton film-film gangster Italia dan film-film teroris Irlandia. Dia bahkan belajar menirukan bahasa Inggris dengan dialek Italia dan Irlandia.

“Oh, aku tahu!” lanjut si tambun. “Kau ingin mencari kaos sepak bola yang langka, kan?”

“Aku bilang tempat yang sudah tua sekali. Bukan toko peralatan olah raga yang modern.”

“Menyerah aku kalau kau sudah main misterius begitu. Terserah kau saja. Mau ke puri abad pertengahan juga boleh.”

“Ha ha ha! Oke,oke, akan kuberitahu. Kita mau ke Brazen Head Hotel. Pub tertua di Irlandia. Dibangun tahun 1660. Kira-kira begitulah.”

“Jauh-jauh ke sini hanya mencari pub? Memangnya di Jakarta tidak ada?”

“Aku mau minum bir hitam, stout yang pekat dan asli Irlandia.”

“Bir hitam? Sekali lagi, memangnya di Jakarta tidak ada yang jual bir hitam?”

“Tapi di Jakarta tak ada yang menghidangkannya hangat-hangat. Lagipula kau kan tahu. Aku suka kalau…”

“Ya, ya, aku tahu. Langsung di pusatnya. Langsung ke jantung. Perfeksionis malang kau ini,” tukasnya sambil tertawa. “Oke, kita ke pub-mu itu. Lagipula ini waktunya makan siang. Di sana juga jualan makanan, kan?”

“Kurasa iya,” jawab temannnya enteng. “Driver, langsung ke Brazen Head.”

Yes, Sir. Brazen Head, Sir,” jawab sang supir taksi.

“Jangan bilang. Semua supir taksi di Irlandia tahu di mana tempat itu?” tanya si gempal.

“Sudah kubilang. It’s the oldest pub in Ireland, mate,” jawab temannya.
Taksi melaju melewati O’Connell Statue terus menuju O’Connell Bridge melintasi sungai Liffey yang membelah kota Dublin dari barat ke timur. Setelah itu membelok ke kanan ke arah barat di Usher’s Quay, sisi sebelah selatan sungai.
Sepuluh atau lima belas menit kemudian taksi berhenti. Mereka berdua bergegas turun dan berjalan ke arah sebuah gang yang nampak sudah ada di situ selama ratusan tahun. Tempat itu berada di bawah naungan bayang-bayang Christ Church Cathedral.

“Hei, hei, apa ini?” tanya si gempal. “Waktu kau bilang Brazen Head Hotel aku kira kita akan memasuki lobi sebuah hotel tua yang setidaknya sedikit mewah, walaupun tua. Tapi kita berjalan masuk gang.

“Ini cuma sebuah hotel kecil, kawan.”

“Heran. Jauh-jauh ke Eropa masuk gang juga. Lagipula tahu saja kau tempat seperti ini. Gang di Jakarta saja aku tak hafal.”

“Aku sudah bilang. Banyak baca dan….”

“Sudah! Cukup! Aku tahu, “ tukasnya cepat.
Pub itu ada di ujung gang. Mereka bukan satu-satunya orang yang berjalan menuju ke sana mengingat ini waktunya makan siang. Kecemasan akan tak tersedianya meja kosong tiba-tiba merayapi tubuh mereka.
Tapi segera nampak tak ada alasan buat merasa cemas. Walaupun banyak orang, suasana masih nampak lengang. Segera mereka menuju sebuah meja kecil dengan dua buah kursi di pojok ruangan.
Sambil mengambil tempat mereka membiarkan atmosfir ruangan menyusup ke benak mereka masing-masing. Alunan musik jazz, Sinatra, mengapung di udara bersama kepulan asap rokok. Pada sebuah papan pengumuman di dekat bar, tertulis ‘Only Traditional Irish Music allowed in this bar’. Mereka berdua membacanya dan tersenyum. Frank Sinatra tidak sedang menyanyikan Danny Boy.

“Waiter,” sahut si langsing melambai kepada seorang pelayan laki-laki.
Sejenak kemudian si pelayan tiba di meja mereka siap mencatat pesanan.

Wha’ would it be, Sirs?” tanyanya dengan keramahtamahan khas Irlandia.

“Dua steak terbaik anda dan dua pint Guiness,” pesan si langsing.

“Ho, tunggu!” sergah kawannya yang gempal. “Kau tahu aku sudah tidak minum bir lagi?” Sejak operasi pengangkatan tumor jinak di paru-parunya tiga tahun yang lalu, dia memang sudah berhenti merokok dan minum alkohol. “Pesankan aku ginger ale saja,” tambahnya.

“Apa? Berhenti merokok aku mengerti. Tapi apa salahnya segelas bir? Kau dulu bilang sendiri, hobi minum tak ada kaitannya dengan sakitmu,” protes si langsing.

“Aku tahu. Cuma sudah cukup lama aku tak minum. Sayang rasanya kalau aku mulai sekarang.”

Oh, my God! Waiter, listen here! Kami sudah jauh-jauh datang melintasi dunia dan temanku ini menolak menikmati your Irish delight. Bukan karena dia tak suka, tapi karena…. tak tahu kenapa,” kata si langsing kepada si pelayan sambil tertawa.

Oh, that’s a trip wasted Sir. Sayang sekali. That’s what everybody came here for. It’s only have been for quite a few hundred years or so, Sir. Wha’ a shame, Sir,” sahut si pelayan.
See? Apa kubilang? Sudahlah, waiter. Bawa saja dua pint Guiness hangat ke sini,”

Right, Sir,” jawab sang pelayan berlalu.

And a glass of ginger ale!” teriak si gempal sebelum si pelayan berjalan terlalu jauh. “Memang tak ada hubungannya dengan sakitku dulu itu, sih. Tapi setelah tergolek beberapa bulan di rumah sakit aku jadi terbiasa tidak minum. Rasanya sayang, sudah berusaha sekian lama berhenti minum.”

“Sudahlah, segelas tak akan membuatmu mabuk. Hawa dingin ini tak akan membiarkan kita mabuk. Lagipula kau dulu peminum yang kuat.”

“Dulu, kawan. Dulu.”

“Dulu kau tidak sedang berada di Dublin. Tapi ini sekarang. Sekarang kau di Dublin, tempat yang kutahu dalam mimpi saja belum pernah kau kunjungi.”

“Aku tahu, tapi….”

“Tak ada tapi! Kau harus minum. Ingat, demokrasi tidak berlaku di sini. Kau minum kalau aku bilang minum. Understood? Capische? Comprende? Mengerti?”

“Tunggu sampai aku selesai bicara! Jangan potong aku dengan seluruh isi kamus bahasa dunia. Bukan itu yang kumaksud,” kata si gempal agak tersinggung karena temannya mengingatkan dirinya. Selama di sini dia jadi tanggungan kawannya itu.

“Maaf, kawan. You were sayin’?”

“Aku bilang aku tahu. Tapi….”

“Tapi apa?”

“Tapi…. Apakah, memang harus…… hangat?” tanyanya terbata-bata. “Aku biasa minum bir dingin. Dengan es batu, kau tahu?”

Tawa meledak dari meja kecil di pojok itu.
“Sepertinya baru saja kau mengeluh tentang taksi yang seperti peti es itu. Kau mau bir dingin? Sudah gila kau?” sahut temannya hampir kehabisan nafas karena terbahak. “Di sini bir hitam diminum hangat. Langsung dari gentong.”

“Terserah kau sajalah,” sahut temannya membela diri, merasa diolok-olok.

“Belum ke Bali kalau belum ke Joger. Belum ke Irlandia kalau belum minum stout hangat!”

“Aku bilang, terserah kau saja lah. Sekali lagi protes, bisa-bisa kau tinggal aku di negara beku ini.”

“Benar, kawanku tersayang!” kata temannya menyeringai lebar setengah mengancam. “Tapi, beku? Kau belum pernah ke Moskow di musim dingin. Negara beku! Ha ha ha! You have no idea, my friend!”

“Kenapa? Kau mau mengajakku ke Moskow dan membujukku menenggak vodka di sana? Setelah segelas besar bir hitam hangat di sini, who knows? Anything’s possible, mate,” si tambun mengerdip nakal.

Berjalan di Red Square. Sepertinya ide yang bagus. Bagus sekali malahan!
The Brazen Head perlahan-lahan makin terasa penuh sesak.

(Supposedly) Dublin, Ireland
November 30th 2006

Senin, 24 Maret 2008

Pop, Seminyak dan Klasik

Aku tak setuju bahwa ada sebuah lagu yang berjenis kelamin pop. Tak ada itu yang namanya lagu pop. Pop itu bukan jenis lagu. Pop hanya merupakan suatu keadaan, status, bukan nama, bukan genre. Semua jenis musik bisa menyandang status pop. Rock, jazz, keroncong, blues, boogie-woogie, campursari, reggae, dangdut, bahkan ocehan anak kecil pun, bisa jadi pop.

Pop itu singkatan dari popular. Populer kalau sedang in, masih baru, gres. Kalau sudah lewat masanya, lagu itu jadi klasik.

Bahkan sebuah komposisi simfoni karangan Mozart pun pernah jadi musik pop, waktu pertamakali dipopulerkan. Sekarang namanya klasik, karena sudah lewat zamannya. Sudah ratusan tahun berlalu.

Seperti suasana sore ini. Akan menjadi klasik kalau esok sore sudah tiba. Sore di teras rumah kawanku, duduk-duduk ditemani yang empunya rumah. Jarang sekali aku bisa bertemu dengannya. Baru pagi tadi dia pulang ke Jakarta untuk berakhir pekan. Sejenak lari dari kesibukannya di kota Bandung. Sejenak lari dari istrinya.

“Kau mau melawan pendapat umum?” tanya temanku yang buntal itu.

“Setiap orang bebas punya pendapat,” jawabku.

“Budaya pop sudah berumur puluhan tahun.”

“Bukan berarti tidak bisa salah.”

“Kalau begitu, jutaan orang salah menjuluki Michael Jackson si Raja Pop?” tanyanya sambil nyengir, geleng-geleng kepala menghadapi kekerasan kepalaku.

“Betul,” jawabku pendek.

“Punya dasar yang kuat, bilang MJ bukan raja pop?”

“Sebutkan satu lagu yang pernah dinyanyikan MJ. Akan kusebutkan genre lagunya.”

“Oke. Hmmm... Beat it.”

“Rock.”

Bad.”

“Rock.”

Rock with You.”

“Walaupun ada kata rock, lagu itu bukan rock. Disco,” lanjutku, “Pokoknya dia bukan penyanyi pop. Dia itu rocker. Rock star! Lagu-lagunya berjenis rock, r&b, disco, tak ada yang pop.”

“Pasti ada alasan mengapa orang-orang menjulukinya raja pop.”

“Karena setiap lagu yang dinyanyikannya pasti populer.”

“Kau mau bilang itu ke dia?”

“Ide bagus!” sahutku. “Aku mau bilang : hei, Mike. Sorry to say, you’re not a pop star. You are a rock star. Coba dengar lagumu Black and White. Di situ ada suara gitarnya Slash. Slash itu gitaris rock. Dia bisa nangis kalau dibilang dia memainkan musik pop.”

Kawanku yang baik dan gembul itu tertawa geli. Perutnya terguncang-guncang sedikit. “Bisa cukur rambut tuh si Slash!” imbuhnya. “Omong-omong, kenapa kau selalu mengajakku berdiskusi tentang hal-hal seperti ini? Musik, buku, pengetahuan umum?”

“Karena kau tidak pernah membantahku.”

“Dari tadi apa yang kulakukan, pikirmu?”

“Kau memberikan pandangan. Tinjauan alternatif. Menguji. Bukan membantah.”

“Padahal aku tak terlalu setuju denganmu,” lanjutnya.

“Oke. Menurut pendapatmu sendiri bagaimana? Apa itu musik pop?”

“Tak tahu lah. Tak peduli.”

“Itulah yang kusenangi dari dirimu. Kekosongan yang bisa aku isi.”

“Jadi menurutmu aku ini kosong?”

“Jangan ketus begitu, dong! Habis kau jarang punya pendapat sih!”

“Aku cuma tak mau ambil pusing.”

“Ya itulah kau!”

Kuraih bungkus rokok di atas meja teras. Kusulut satu, kuembuskan asapnya ke udara terbuka. Di rumah ini orang hanya bisa merokok di ruang terbuka. Teras rumah, halaman belakang, pokoknya tidak boleh di dalam rumah. “Apa pilihanmu?” tanyaku kemudian.

“Apa saja yang enak kudengar,” jawabnya pendek.

“Kalau kentut enak kau dengar?”

“Kau mau bicara musik atau...?” sahutnya ketus.

“Makanya yang spesifik!” tukasku tak kalah judes.

“Musik apa saja. Aku tak pernah mengotak-kotakkan selera.”

“Itulah masalahmu. Tak pernah tegas. Spesifik,” lanjutku.

-------o00o-------

Milkshakenya enak,” katanya ketika keluar dari kamar hotelku di Legian. “Paling tidak sejauh yang pernah kurasakan setelah beberapa bulan di Bali.”

Aku yang minta dicarikan empat makan yang kecil dan sepi hanya menyahut pendek, “ Oke.”

Bukan kualitas makanan dan minuman yang aku cari. Aku hanya ingin berdua lebih lama lagi dengannya, di malam terakhirnya di Bali. Setelah makan malam aku harus mengantarnya pulang ke tempat kosnya, untuk bersiap menjalankan tugas malam sebagai PR Officer sebuah kafe di Jalan Padma.

Dan aku tak akan bertemu dengannya lagi sampai besok siang ia pamit pulang ke Jakarta. Aku bisa saja menungguinya semalaman di kafe, melihatnya bergaul dengan tamu-tamu kafe, merayu mereka untuk membeli lebih banyak lagi makanan atau minuman, tapi tidak. Hatiku akan hangus terbakar cemburu melihatnya dikelilingi oleh bule-bule mabuk, yang punya angan bagai tentakel-tentakel gurita raksasa, dan itu akan membuatku makin berat meninggalkan Bali nanti.

Jadi di sanalah kami berdua sekarang. Di sebuah restoran kecil di pojok pelataran parkir sebuah factory outlet, di tepi jalan kecil di daerah Seminyak.

“Sepi, ya,” kataku. Dia hanya mengangguk kecil. Seluruh Bali juga sepi. Keadaan tak pernah bisa betul-betul pulih semenjak tragedi bom di Legian.

Kami memesan dua porsi makan malam yang terdiri dari nasi dan ayam bakar serta, tentu saja, dua gelas besar milkshake cokelat.

Terus terang aku tak nafsu makan. Tak sudi aku memandangi piring makan malamku kalau aku bisa sepuasnya memandangi wajahnya. Orang tak bisa bilang kalau dia punya wajah yang cantik jelita, tapi aku tahu kalau orang pasti tertarik kepadanya. Dia punya daya tarik seorang perempuan matang. Bukan milik seorang gadis yang baru ranum-ranumnya, rupawan dan menebarkan rasa manis. Dia seorang perempuan dewasa. Kecantikan bukanlah daya tariknya. Tapi buatku dialah yang namanya cantik. Cantik secantik-cantiknya.

“Kenapa tak kau habiskan makananmu?” tanyanya.

“Sudah kenyang aku,” jawabku pendek.

“Jawaban orang banyak pikiran,” tambahnya sambil tersenyum tipis.

“Apa kelihatan jelas?”

“Apa yang kau pikirkan?”

“Tak tahulah,” jawabku. “Macam-macam.”

“Seperti?”

“Seperti, entah kenapa aku merasa takkan melihatmu lagi.”

Matanya memandangi gelas di depannya. Kulihat wajahnya mendadak sedikit suram. Entah apa yang ditimbulkan kata-kataku dalam dirinya. Rasa kesal? Atau sesal?

“Kenapa ngomong seperti itu?” tanyanya kemudian.

“Aku masih beberapa hari lagi di Bali,” lanjutku. “Besok kau pulang ke Jakarta. Dan saat aku pulang ke Jakarta nanti, kau sudah akan kembali ke sini lagi.

Wajahnya masih sedikit suram. Kesal? Sesal?

“Bukan keinginanku seperti itu,” lanjutnya. Terasa suaranya makin lirih.

“Tapi kau juga tak berkeinginan sebaliknya,” kataku. Apa aku terdengar sinis? pikirku.

Kan aku sudah bilang. Aku tak bisa...”

“Memang,” sergahku. “Aku memang bukan apa-apamu. Dan kutahu kau tak ingin aku jadi apa-apamu.”

“Aku sudah coba. Tapi aku memang tak bisa menerimamu.”

“Ya, aku tahu. Perasaan memang tak bisa dipaksakan. Hanya saja...”

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja... aku tak habis pikir,” lanjutku. “Setelah setahun kita saling kenal. Setelah kita berdua di kamarku tadi...”

Kupandangi lagi wajahnya. Tak bisa kuduga apa yang dipikirkannya. Matanya menghindari tatapanku. Kelu? Muak? Menyesal? Feeling guilty? Bingung? Kita berdua di kamar tadi. Penuh arti? Cinta? Kesenangan badani? Just a kiss? Dari hati? Seks belaka? Tak bisa kuduga apa yang dirasakannya. Aku hanya bisa merasakan, dia tak merasakan sedalam apa yang kurasakan. Bali yang sepi jadi terasa makin sepi.

Tubuh kami hanya dipisahkan oleh sebuah meja. Tetapi meja itu menjadi saksi terpisahnya dua jiwa sejauh jarak yang direntangkan oleh dua dunia yang berbeda. Seolah kami mamandang langit yang sama sambil menjejakkan kaki pada bola angkasa yang berbeda.

Seingatku tak ada lagi kata-kata yang kami ucapkan, yang menunjukkan bahwa hubunganku dengannya paling tidak punya setitik arti, sampai aku mengantarnya ke bandara esok harinya. Kami hanya dua orang yang kebetulan bersimpangan jalan di dunia ini. Hubungan kami hanya sempat pop, tanpa punya kesempatan untuk jadi klasik...

-------oo00oo-------

“Jadi kau mau memulai gerakan anti pop?” tanya sobatku tiba-tiba.

Gambaran sebuah restoran di Seminyak terlempar keluar dari benakku.

Aku kembali ke teras depan rumah kawanku tersayang. Pertanyaan sinisnya membuyarkan lamunanku. Namun diam-diam aku merasakan sedikit kehangatan dari kekecewaan karena tercerabut dari lamunan itu. Membuatnya terasa sedikit...klasik.

“Apa kau bilang?” aku balik bertanya.

“Kau mau memulai gerakan anti pop?”

“Aku tidak anti pop,” sahutku tenang sambil menghembuskan asap rokok.

“Ha?” serunya dengan wajah tak percaya. “Lalu sedari tadi apa yang kita ributkan?”

“Menurutmu apa? Apa yang kau simak?”

“Segala omongan tentang pop, rock, jazz... Tak ada itu yang namanya musik pop...”

“Ya! Itu!” sergahku. “Kau menyimak omonganku. Bukan maksudku.”

“Maksudmu...?”

“Tak ada itu yang namanya musik pop,” potongku. “Aku tak pernah bilang tak suka atau anti musik pop.”

“Tapi tetap saja kedengarannya negatif.”

“Aku cuma tak suka adanya faktor-faktor yang menyebabkan suatu jenis musik dengan mudah jadi populer.”

Temanku mengerutkan keningnya. Selama beberapa detik nampaknya dia berpikir keras, sampai akhirnya dia berkata sambil mengibaskan tangannya, “Aku biarkan kau menjelaskan faktor-faktor apa saja itu.”

Mau tak mau aku sunggingkan seulas senyum geli. “Coba saja dengarkan band-band yang menjamur sewasa ini,” lanjutku.

“Teruskan,” kata temanku itu sambil memusatkan perhatian pada apa yang hendak kukatakan. Mudah sekali membuatnya memutar pantat dan menarik perhatiannya.

“Semuanya populer, laris bak kacang goreng. Apa yang membuatnya begitu?”

“Apa?”

“Musikalisasi yang sederhana, lirik-lirik yang ringan, gampang dimengerti, membuatnya mudah diterima pendengar.”

“Apa salahnya dengan itu?”

“Tidak ada salahnya,” kataku. “Tidak ada salahnya kalau ukurannya duit.” Kubiarkan kata-kataku meresap sejenak. Kumatikan rokokku di asbak.

“Yang mudah diterima orang pasti lebih laris,” lanjutku.

“Aku merasa ada ukuran lainnya,” kata temanku menyelidik.

“Lain lagi kalau ukurannya orisinalitas. Keunikan,” sambungku. “Coba saja dengar lagu-lagu mereka. Bagiku mereka semua terdengar sama saja.”

Keningnya tak lagi mengerut. Namun dia nampak masih berpikir walaupun tak sekeras tadi. Agaknya dia mulai menangkap maksudku.

Gaya nyanyi, suara vokal, bahkan penampilan dan potongan rambut semuanya sama,” kataku. “Mereka cenderung meniru pendahulu-pendahulu mereka yang lebih dulu populer. Gaya dan penampilan sama, kemungkinan besar rejeki juga sama.”

“Kelihatannya aku mengerti maksudmu,” kata temanku manggut-manggut.

“Kalau gaya jualan sudah terbukti laku, kualitas jadi nomor sekian,” lanjutku. “Kacang goreng lebih laku daripada fillet mignon. Semua orang bisa beli kacang goreng.”

“Jadi kau lebih suka kalau disuguhi filey... apa tadi?”

“Bukan begitu. Maksudku walaupun enak, kacang tetap saja kacang.”

“Yah, begitulah orang Indonesia,” tambahnya. “Kalau jualan kacang saja bisa kaya, buat apa jualan filey filey apa itu tadi.”

“Parahnya film juga begitu. Film Indonesia isinya horor melulu...”

“Ha ha ha ha!” gelaknya. “Biar aku lanjutkan. Yang serba ngesot memang laku.”

“Yah, siapa tahu? Suatu saat nanti yang serba ngesot bisa jadi klasik. Bisa jadi cult movie,” sambungku.

“Jadi intinya, semua yang pernah nge-pop suatu saat akan jadi klasik, begitu?”

Kuambil rokok sebatang. Kunyalakan. “Kurang lebih begitu. Menurutku,” jawabku sambil mengepulkan asap.

“Kesimpulannya, kau suka semua yang klasik,” tambahnya lagi.

“Tidak juga.”

“Kau ini...!”

“Kalau aku tak suka saat dia nge-pop,” tukasku, “jangan harap aku suka kalau dia sudah jadi klasik.”

Kawanku itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menggaruk-garuk perutnya yang buntal. “Memang susah bicara denganmu. Susah!” katanya.

Aku cuma tersenyum saja sambil menghisap rokokku dalam-dalam. Memang enak merokok. Merokok akan selalu pop. Merokok adalah pop culture. Tak akan jadi klasik. Apalagi jika merokok sambil menikmati sunset. Di pantai.

Ah, tiba-tiba aku ingin sekali pergi ke Bali.

Jakarta

November 11th 2007

Aiko (Jalanan Kota Tokyo)

Aku tersenyum ketika pertama kali membaca tulisan namanya : Okamoto Aiko. Nama kecilnya ditulis dengan dua huruf kanji, ‘ai’ yang artinya cinta dan ‘ko’ yang artinya anak. Seorang anak penjelmaan cinta. Begitulah kurang lebih aku mengartikannya.

Aku tersenyum ketika melihat hubungan antara namanya dengan kecantikannya dan segala sesuatu tentangnya, yang begitu tepat membangkitkan gejolak dalam hatiku. Dia telah membangkitkan rasa cinta dalam hatiku, sejak pertama kali aku melihatnya di kampus Nihon University Tokyo.

Beranikah aku mengatakan cinta? Apakah kata itu akan selamanya terucap? Takkan ada yang mampu mengukur perasanku. Bahkan tidak juga waktu. Tiada kesadaran yang mampu mencegah datangnya perasaan yang satu itu. Tiada hati yang mampu menghentikannya tumbuh. Jadi katakanlah, Cintaku... akankah ada jawaban untuk semua pertanyaanku itu?

Dunia kita begitu jauh berbeda.

Jawaban... Kadang lebih baik dibiarkan tak terucap. Dan malam pun semakin larut, seperti yang kusaksikan dari sebuah sudut di kota Tokyo. Aku akan merindukan kota ini seperti aku merindukanmu. Aku merasa begitu tersesat. Tiap penunjuk jalan, tiap trotoar yang terasa akrab... apakah mereka mengenalku? Kemanakah jalan-jalan ini menuju? Semakin jauh aku berjalan, semakin cepat aku kembali ke mana aku mulai. Apakah aku telah berjalan dalam lingkaran? Dan aku menemui diriku sendirian di tengah sesaknya subway di jam-jam selepas kerja, terkurung oleh dinding-dinding kereta cepat ini.

Ketika aku melangkah keluar dari subway, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih sore untuk ukuran Tokyo. Kehidupan malam pun baru memperdengarkan gelegaknya, di bawah sinar bulan yang bersaing dengan gemerlapnya kawasan Roppongi.

Bar, coffee shop, geisha, pria-pria berdasi dengan laptop mereka, tertawa dan melekat pada gelas-gelas bir dan hiburan-hiburan selepas kerja. Jalanan pun telah bosan dengan langkah-langkah kaki mereka yang mantap. Hari demi hari. Malam demi malam. Aku masih belum bisa percaya mereka makan nasi, bukannya mur dan baut dan minyak pelumas. Dan aku masih belum bisa percaya aku telah jatuh cinta dengan salah satu dari mereka. Aku tesenyum dan melangkah masuk ke dalam salah satu bar di situ. Aku menjadi begitu terbiasa dengan gaya hidup mereka.

Bar itu tidak terlalu ramai. Dengan begitu tidak terlalu bising. Aku memesan segelas minuman segera setelah mengambil tempat duduk di ujung bar yang kosong. Sebenarnya aku tak terlalu ingin minum. Aku lebih suka memikirkannya sekarang. Aku merasa takkan pernah berhenti memikirkannya kecuali, tentu saja, kalau aku mati. Terbayang di benakku pertemuan dengannya, pertemuan terakhir, di sebuah restoran di Akasaka.

“Aku memilihmu karena rambutmu,” katanya kala itu.

“Memangnya ada apa dengan rambutku?”

“Rambutmu hitam. Alami,” katanya lagi,”Kau lihat saja sekelilingmu. Dewasa ini sulit sekali menemukan pria Jepang muda yang berambut hitam alami. Semua mengecat rambutnya. Pirang, merah,...”

“Kebetulan memang aku tak suka mengecat rambut,” timpalku.

“Baguslah kalau begitu.”

Pernyataannya sedikit membuatku berpikir. “Tunggu dulu. Berarti kalau aku mengecat rambutku, kau takkan memilihku?”

“Bisa jadi,” jawabnya enteng. Pandangannya tak tertuju padaku.

“Hei, kau tak adil!” tukasku pura-pura sewot. “Berarti, kau bukan memilihku karena kepribadianku?”

“Bukan berarti begitu juga,” katanya sambil tersenyum, manis sekali. Kali ini dia langsung menatapku. “Tetapi hal kecil seperti warna rambut bisa berpengaruh besar terhadap pilihan seseorang.”

“Memang,” kataku pelan. Kali ini aku yang tidak menatapnya. Kepalaku tertunduk di atas cangkir blackberry tea yang setengah kosong di atas meja.

“Seperti pilihan orangtuamu, yang menginginkan orang Jepang sebagai menantu.”

“Maafkan aku,” sahutnya lirih.

“Tak apa. Bukan salahmu.”

“Darah memang sangat penting dalam keluargaku. Ayahku bilang, ‘Darah murni samurai kekaisaran sudah mengalir selama ratusan tahun dalam keluarga kita. Aku ingin keturunanku juga berdarah murni’. Dia mengatakan itu setelah kau pulang. Pada hari pertama kali aku mengenalkanmu pada orangtuaku. Aku langsung tahu apa maksudnya. Dia tak menyetujui hubungan kita,” lanjutnya lagi. Semakin lirih.

“Mungkin kau bisa bilang aku juga keturunan ningrat. Penguasa kerajaan besar di Jawa,” kataku. Sebuah usulan yang jelas tidak serius. Sebuah joke kecil untuk mengangkat suasana hatinya.

“Mungkin juga,” sahutnya. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Rupanya dia menangkap maksudku.

“Ah, tidak mungkin berhasil,” tukasku.

Kami tertawa mendengar pernyataanku itu. Tetapi hati kami memilih untuk menangis.

“Maafkan aku karena menjadi anak yang patuh,” katanya.

“Sudah kubilang tak apa. Bukan salahmu.”

Dia memandang arlojinya. Pukul satu siang.

“Aku harus pergi. Aku janji dengan ibu. Dia berkeras membantu mempersiapkan diriku untuk omiai* besok,” katanya kemudian. Dia mengucapkan omiai dengan cepat sambil menundukkan kepalanya. Sampai di sini dia tak lagi memandangku.

Aku tertegun. Secepat itu? pikirku. “Omiai?”

Dia mengangguk pelan. “Dengan anak kawan lama ayahku. Masih ada hubungan darah dengan keluarga Fujiwara.”

Aku tahu keluarga itu. Sudah ratusan tahun keluarga tersebut bernaung di bawah bayang-bayang kekaisaran Jepang. Hampir semua puteri dalam keluarga

itu, yang memang terkenal luar biasa elok, selalu dijadikan permaisuri para kaisar atau istri para pangeran kekaisaran Jepang yang konon merupakan keturunan langsung Sang Dewi Matahari, Amaterasu Omikami.

“Aku... ehm... begitu ya,” kataku terbata.

“Yah, begitulah,” sahutnya pelan. Hampir berbisik. Kepalanya tertunduk memandangi tas tangan di pangkuannya. “Yah,” katanya sambil berdiri.

“Selamat... kukira,”

“Kalau begitu...”

“Aiko chan...”

Sayonara...” Dia membungkuk cepat dan langsung bergegas pergi.

“Aiko chan!” sahutku hampir berteriak.

Tak ada lagi kata-kata yang bisa menahannya pergi. Aku bersumpah sempat melihat wajahnya saat dia berbalik pergi. Aku bersumpah melihat kilau di wajahnya waktu itu. Seperti... air mata.

Itu hampir sebulan yang lalu.

Sekarang aku di sini, di sebuah bar yang semakin ramai, di depan segelas minuman yang tak juga kusentuh. Aku merasa bodoh waktu melihatnya berlalu begitu saja. Tidak mencoba menahannya pergi. Tidak mencoba memperjuangkan cintanya. Tidak pula merasa ingin menangis.

Dunia kami terlalu jauh berbeda. Dalam hati kecilku pun aku sadar, hubungan kami tak kan bertahan lama. Tapi bukannya tidak mungkin. Aku sudah melihat banyak perkawinan antar ras negara yang berhasil. Hanya saja hal itu tak berlaku dalam hubungan kami. Apa memang aku kurang menginginkannya untuk berhasil? Ah, aku tak tahu. Aku merasa bodoh. Aku tak mau berpikir lagi.

Aku merasa begitu kesepian sekarang, terpisah darinya. Tapi aku tahu, kami menghirup udara yang sama. Dan kami memandang langit yang sama. Untuk sesaat, aku merasa dekat dengannya. Tetap saja aku bertanya, “Ya Tuhan. Apakah ia merasakan kesepian yang sama denganku?”

Dan Tokyo, engkau begitu sarat dengan tempat-tempat yang menarik. Tapi aku hanya ingin berada di mana Aiko berada. Kalau saja aku bisa. Untuk

beberapa menit kemudian, tiba-tiba aku merasa asing di kota yang kucintai ini. Aku membayar pesananku dan melangkah pergi.

Malam terasa tanpa akhir. Aku bisa saja pulang sekarang. Tapi aku merasa dekat dengannya di luar sini, di jalanan kota Tokyo. Aku tak ingin tidur, dan nampaknya begitu juga kota ini.

Kontak terakhir dengannya terjadi beberapa hari lalu. Saat itu hari ulang tahunku. Ulang tahun tanpa kue ulang tahun, tanpa sanak saudara, tanpa kado. Tapi kalau kupikir, seseorang telah memberiku kado. Aiko. Dia memberiku kado termahal yang bisa aku harapkan. Aiko menelepon. Selama lima menit. Lima menit yang berlangsung selamanya.

Nah, aku mengingat sesuatu yang membuatku sedikit bahagia. Apakah aku merasakan sedikit kecemburuan di udara? Maafkan aku, Tokyo. Orang memerlukan sedikit waktu untuk dirinya sendiri. Tapi kau masih bisa tetap bersamaku sebentar lagi. Malahan, habiskan waktumu selama yang kau mau. Bagaimana pun juga, kita berdua sendirian dalam dunia gila yang makin menua ini. Mati perlahan. Kita berdua mati perlahan, kawanku.

Kukeluarkan dompetku. Aku ingin mengamati fotonya. Aiko. Wajahnya yang telah menawan hatiku. Satu-satunya wajah yang ingin kulihat di setiap mimpiku yang gelisah. Aku tersenyum, mengatakan, “Aku mencintaimu,” mengembalikan dompetku ke saku celana, dan berjalan pulang ke apato.

Aku mencintaimu, sayangku Aiko. Selamat malam. Mimpi yang indah.

Dan untukmu Tokyo, kawanku. Hari ini terasa panjang dan kau telah mempersembahkan malam ini untukku. Oyasuminasai. Oyasumi...

Jakarta

December 12th 2007

Bossa Nova (The Story)

Panas terik tengah hari bulan Februari membakar kota Rio de Janeiro. Dua orang turis - paling tidak satu di antara mereka - merelakan tubuhnya digempur milyaran foton ultraviolet, berjalan di atas trotoar Avenida Atlantica yang terkenal itu. Ombak laut menerpa pasir pantai, membasahi tubuh ribuan turis lokal dan manca negara, Copacabana beberapa langkah di sebelah kiri mereka. Gerutuan keluar dari mulut salah seorang yang berjalan dengan langkah berat beberapa meter di belakang temannya. Air dalam botol mineral di tangannya tinggal beberapa teguk.

“Aku tahu kau yang mentraktirku ke sini sampai aku tega meninggalkan istriku di rumah. Untung dia mengizinkan. Tapi ini sudah keterlaluan! Panasnya seperti di neraka! Kata orang ini surga dunia,” sumpahnya. Tubuhnya yang pendek gempal bergoyang gontai, menyeret-nyeret kedua kakinya.

Temannya yang lebih tinggi dan langsing hanya tersenyum lebar mendengar omelan rekannya. Langkahnya pelan tapi mantap. Kepalanya tertoleh ke kanan menatap bukit Corcovado, dengan patung Kristus di puncaknya, yang menjulang jauh di belakang gedung-gedung kota Rio.

“Kenapa kita tidak naik taksi saja sih? Pantai Ipanema masih beberapa mil lagi di depan kita, “ lanjutnya lagi. Keringat sudah membasahi setiap sentimeter persegi t-shirt-nya.

“Bersabarlah, kawan! Paling tidak satu jam lagi kita sampai di sana, “ jawab temannya dengan senyum yang tambah lebar. “Kau sendiri yang setuju kita berjalan-jalan di pantai hari ini.”

“Tapi tidak sebelum aku tahu kita harus ke Ipanema. Tidak bila harus mengukur panjangnya Copacabana lebih dulu!”

“Sudahlah. Kita berada di pantai paling indah di seluruh dunia. Copacabana adalah nama lain untuk paradise kau tahu? Kenapa tidak kau nikmati saja pemandangan di sebelah kirimu?”

“Pemandangan apa? Jutaan galon air laut? Aku yakin di Ipanema juga sama.”

Ada banyak cewek-cewek Carioca dengan tanga.”

“Apa? Tangga?”

Tanga! Bikini mikro. Mereka sengaja pakai yang kekecilan. Sepuluh nomor lebih kecil.”

“Oh iya, aku tahu. Tapi setelah beberapa ratus meter berjalan sambil memandangi mereka, aku sudah tak tahu lagi apa yang mesti diperhatikan. Mereka semua sudah kelihatan sama saja.”

“Jangan pandangi secara keseluruhan. Cari bagian-bagian tubuh yang nampak berbeda.”

“Yang lelaki jelas berbeda. Apa kau suruh aku memandangi yang laki-laki juga?”

“Bukan itu maksudku. Di Brazil ahli implan payudara tidak laku, kau tahu?”

“Kenapa? Kau mau pasang implan?”

“Bukan. Di sini perempuan tidak butuh payudara yang besar. Malah yang punya payudara besar ingin dikecilkan. Tapi kalau pantat lain masalah. Implan pantat sangat diminati di sini.”

Temannya geleng-geleng kepala mendengarnya. “Kau tahu darimana sih hal-hal seperti itu? Apa kau selalu mengadakan riset sebelum melancong ke suatu negara? Bagaimana cara mereka makan, apa yang mereka lakukan waktu senggang, seperti itu?”

“Tidak sepenuhnya salah. Aku hanya suka membaca. You’d be surprised what you can find in a book.”

“Memangnya ada buku yang mengatakan bahwa ada sementara orang yang lebih suka menggelembungkan pantatnya ketimbang kantong susunya?”

Sampai di sini senyuman sudah berubah menjadi tawa terbahak-bahak. “Setahuku tidak. Rasanya aku pernah dengar tentang itu. Bukan dari buku.”

“Terserah, deh! Aku mau minum. Bisa kan kita berhenti sebentar? Aku mau beli air mineral. Punyaku sudah habis.”

Mereka berhenti sebentar untuk membeli dua botol air mineral ukuran satu liter dari seorang pedagang minuman keliling. Seorang favelado berkulit legam dari pemukiman kumuh favela di jantung kota Rio. Jumlah mereka banyak sekali. Sungguh mengherankan melihat kemiskinan masih tetap ajeg di negara yang menghabiskan jutaan dolar setiap tahunnya untuk menggelar karnaval megah. Kemiskinan begitu berakar di negara ini. Sungguh kontras dengan semangat mereka untuk berpesta pora.

Di lain pihak, kemiskinan membuat semangat anak-anak favelado tetap berkobar untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Banyak yang menggantungkan harapan mereka pada sepak bola. Sang bintang Ronaldo adalah salah satu dari mereka yang berhasil keluar dari favela mereka yang bobrok, mereguk kemewahan hidup sebagai salah satu bintang sepak bola termahal di dunia. Tapi tetap saja hanya beberapa di antara mereka yang bisa sampai sejauh itu.

Mereka melanjutkan perjalanan, masih sekitar dua mil lagi dari tujuan akhir. Copacabana memang luar biasa, tetapi kau belum pernah ke Brazil kalau belum pernah melihat Ipanema.

“Taksi. Kita harus naik taksi,” kata si gempal terengah-engah, terus berusaha memperbaiki situasi mereka.

“Minum saja airmu. Kita tidak akan naik taksi.”

“Boleh saja kau terobsesi jalan kaki melintasi surga dunia. Tapi kau tidak harus membunuh temanmu dalam prosesnya, bukan?”

“Ha ha ha! Sudahlah. Aku tak akan membiarkan kau mati. Tapi kalau kau mati di sini sekalipun, setidaknya kau tahu pasti masuk surga kan? Sekarang pun dalam keadaan hidup kau sudah berjalan-jalan di dalamnya.”

“Wah aku tak tahu harus menangis atau tertawa bahagia mendengarnya!”

“Suatu hari nanti kau akan mengingat hari ini dan berpikir betapa beruntungnya dirimu.”

“Sekali lagi aku tahu kau yang mengajakku ke sini. Aku tahu betapa dirimu mencintai pantai-pantai eksotik. Tapi pantai tidak hanya ada di Brazil, kan? Aku sendiri lebih suka pantai-pantai di Karibia.”

“Aku juga. Tetapi musiknya beda.”

“Ha? Bawa saja i-Pod dan dengarkan Desafinado di Kuta. Buatku tak ada bedanya. Kenapa harus jauh-jauh ke Brazil untuk mendengarkan bossa nova?”

“Jelas beda lah. Segala sesuatu lebih bagus bila ada di tempatnya berasal. Lebih afdol.”

“Dasar perfeksionis!”

“Kau juga penggemar bossa nova. Mestinya kau mengerti.”

“Jadi kalau mau menikmati salsa kita harus pergi ke Kuba, begitu?”

“Tidak harus.Tapi itu ide bagus! Mungkin akan kupikirkan.”

“Ide bagus yang mahal. Sangat mahal!”

“Ayolah! Mana jiwa romantismu?”

“Romantisme itu masalah lain. Romantisme adalah menemukan makna pada hal-hal kecil yang nampak tak berarti. Pada detil, bukan pada perjalanan melintasi setengah bola dunia.”

“Kau pikir sedang apa aku di sini? Aku sedang menyerap detil-detil, banyak sekali di sini. Di pusatnya.”

“Aku masih tak mengerti obsesimu yang satu ini. Bossa nova memang musik yang indah. Tapi bukan musik yang tak ada di mana-mana. Indah tapi tak lebih dari sekedar musik. Dan hanya itulah bagiku.”

“Tidak kalau kau mengerti kandungan filsafatnya.”

“Filsafat? Ngomong filsafat jauh-jauh ke Brazil? Kau lebih gila dari yang kukira!” untuk pertama kali tawa terdengar dari mulutnya.

“Kau tak mengerti. Bossa nova adalah kontradiksi. Seperti kehidupan di negara ini. Kemiskinan di tengah pesta pora.”

Ucapan ini disambut gelengan kepala. Lebih keras dari yang tadi. “Kau benar. Kontradiksi. Seperti kita berdua ini.”

“Kau tak tahu maksudku. Biar kujelaskan. Ambil contoh satu lagu yang kau tahu.”

“Mendengarkan Desafinado dengan I-pod. Di Kuta.”

“Oke, Desafinado. Kau pikir tentang apa lagu itu?”

“Mana aku tahu? Aku tak bisa bahasa Brazil.”

Brazilian Portuguese. Makanya biar aku jelaskan. Desafinado bercerita tentang cinta yang ditolak. Tentang sakit hati seorang lelaki, dilecehkan wanita yang dicintainya. Se voce disser que eu desafino amor…. saiba que isso em mim provoca imensa dor…”

I was suppose to understand that?”

If you say my singing is off key, my Love…You will hurt my feeling don’t you see, My Love? Itu artinya.”

“Mmmm. Aku juga akan sakit hati kalau dibilang sumbang seperti itu.”

“Bandingkan dengan Corcovado.”

“Aku tahu versi English-nya. This is where I want to be… here with you so close to me…Begitu kan kira-kira?”

“Tepat, my friend! Corcovado adalah tentang kebahagiaan menemukan cinta sejati.”

“Aku mengerti. Kontradiksi. Tapi tiap lagu kan berbeda? Wajar kalau ada kontradiksi.”

“Bukan satu lagu dengan lainnya. Tapi masing-masing lagu itu. Desafinado adalah tentang hati yang terluka, dinyanyikan dengan irama yang gembira. Tapi Corcovado dinyanyikan dengan irama yang sendu, tidak seperti orang yang baru menemukan cinta sejati. Kontradiksi, amigo!”

“Mmmm, nampaknya aku mengerti sekarang. Tidak pernah terpikirkan olehku.”

“Kalau mau lebih jelas ada contoh yang pas. Triste. Versi Inggrisnya Sadness. Dengar judulnya tak perlu aku jelaskan lagi , kan? Lagi-lagi kau akan menemukan banyak orang dansa-dansi diiringi lagu yang berjudul kesedihan itu.”

Si turis membiarkan kata-katanya diendapkan oleh temannya yang pendek dan gempal itu. “Bayangkan apa yang bisa kau dapat dengan pergi melintasi setengah bola dunia,” katanya.

“Kau bisa saja memberitahuku soal itu di rumah. Tidak perlu jauh-jauh mencari matahari di sini!” sahut kawannya hampir menggerutu lagi, namun dengan langkah yang lebih ringan. Langkah mereka makin seirama nampaknya kini. Tawa-tawa kecil makin sering terdengar dari mulut mereka.

“Kini setelah memperoleh pencerahan, aku menduga apakah itu yang kau cari di Ipanema. Kontradiksi?” si gempal memecah beberapa menit keheningan.

“Tidak tepat seperti itu. Tapi bisa dibilang begitu juga.”

Let me guess. Menyanyikan lagu Girl from Ipanema sambil memandang putus asa kepada seorang gadis Carioca tinggi yang berkulit cokelat?”

“Aku membayangkan bagaimana rasanya, ya?”

“Aku yang sudah beristri ini ingin tahu juga bagaimana.”

Sejenak si gempal menangkap kesunyian yang tercermin di wajah temannya. “Seperti yang kau rasakan dengan gadis itu di Jakarta?”

Mendadak Rio de Janeiro terasa seperti kota tersunyi di dunia.

I’m sorry, Man. Tak seharusnya aku mengingatkan dirimu tentang dia. Anyway, itulah alasanmu mengajakku berlibur ke sini, kan?”

“Lebih tepat lagi: memaksamu mengambil cuti ke sini,” sahutnya sambil memaksakan senyum. Kelihatan sekali. Memaksakan senyum.

Well, it’s worth it. Lagipula mana bisa orang menolak ditraktir jalan-jalan ke luar negeri? Kau tak memaksaku. Aku yang memaksakan cuti.”

Mereka sudah mulai meninggalkan Copacabana. Jalan membelok masuk ke daratan memotong sebuah tanjung, Ponta do Arpoador. Dari sini pantai Ipanema sudah tinggal beberapa ratus meter lagi. Hari sudah mendekati pukul tiga sore. Sore yang indah di Brazil.

“Kita cari kafe yang nyaman di Ipanema nanti. Satu jam cukup untuk makan dan minum? Setelah itu kita kembali ke hotel. Aku janji kali ini kita pulang naik taksi.”

“Setelah dua jam melintasi matahari? Tidak! Kita tinggal sampai sunset. Sudah jauh-jauh jalan kaki kau ingin cepat-cepat pulang?”

Ingin tertawa terbahak-bahak dia memandangi temannya yang gempal basah itu. “Kau yakin?” tanyanya.

“Yakin sekali! Aku juga ingin merasakan kontradiksimu yang mahal itu.”

Bossa nova, my friend. Bukan kontradiksi.”

Whatever. Bossa nova, samba, lambada, Santana, Tito Puente, apalah.”

“Santana dan Tito Puente bukan orang Brazil, kawan. Latin tapi bukan Brazil.”

“Oh, kau mau merusak mood-ku yang sudah baikan ini dengan diskusi lagi? Apa lagi sekarang? Budaya Amerika Latin?”

“Oke, oke,” tukasnya cepat, takut melihat wajah kawannya yang sudah mulai menggerutu lagi. “Jangan judes begitu, ah!”

“Harap maklum. Seharusnya aku bersama istriku di sini. Kami tak sempat bulan madu setelah menikah dulu. Siapa sangka aku akan bulan madu bersama seorang laki-laki yang terobsesi dengan musik bernada miring?”

“Kali ini kau benar, kawan. Bossa nova is a crooked song. Lagu-lagu bernada miring. Bagus sekali komentarmu! Kau memang penuh kejutan.”

“Itulah Scorpio. Tidak seperti dirimu. Kalian para Libra memang gampang ditebak. Sulit, tapi tak susah ditebak.”

“Sekarang kau yang mau mengajakku berfilsafat tentang sifat manusia?” katanya menggoda temannya yang kini semakin cepat langkahnya.

“Apa yang ingin kau ketahui? Aku bisa bicara panjang lebar tentang zodiac sambil minum Pina Colada di kafe nanti.”

“Aku lebih pilih guarana. Jus buah asli Brazil.”

“Terserah. Aku mau Pina Colada. Boleh, Joe Carioca?”

“Boleh, Donald Duck,” jawabnya kini tak bisa menahan tawa.

“Kita cari tempat yang nyaman dekat pantai, memesan minuman dan makanan sambil pasang mata mencari gadis yang tall and tanned and young and lovely.”

“Hati-hati! Bisa-bisa kau jadi orang Brazil sungguhan.”

“Memang kenapa? Kita bisa duduk-duduk di sana seperti Jobim dan de Moraes tahu kau bisa menulis lagu sepulang dari sini.”

Sejenak si gempal memesonakan kawannya. “Tahu dari mana kau? Memang begitu proses terciptanya lagu Girl from Ipanema. Dua orang musisi

terkemuka Brazil, duduk-duduk di sebuah kafe di Ipanema sambil memandang seorang gadis cantik yang lewat hanya untuk membeli rokok buat bibinya. Hampir tiap hari.”

“Bukan cuma kau yang suka baca. Aku tahu dari internet.”

“Luar biasa! Tak percuma aku mengajakmu.”

“Akuilah. Temanmu ini memang luar biasa,” jawab si gempal sambil tertawa.

Sambil tertawa pula mereka berjalan ke arah barat memasuki gerbang Avenida Vieira Souto. Tepian Ipanema yang riuh di sebelah kiri mereka. Di sebelah kanan deretan kafe ramai mengalunkan lagu-lagu samba dan bossa nova melalui loud speaker mereka. Sesekali terdengar sayup-sayup lagu Garota de Ipanema, “Olha que coisa mais linda mais cheia de graca… Tall and tanned and young and lovely, the girl from Ipanema goes walking… And when she passes I smile, but she doesn’t see…

Ke sanalah kaki-kaki mereka melangkah. Sejenak terbayang seorang gadis, ribuan kilometer dari sini, cinta yang bertepuk sebelah tangan, serta mahalnya ongkos yang diperlukan untuk melupakannya. Atau mungkin justru untuk mengenangnya. Vakansi melintasi setengah planet bumi. Pedihnya hati menyanyikan lagu yang terdengar segar. Tak pernah hal-hal yang bertentangan terasa begitu indah.

(Supposedly) Rio de Janeiro, Brazil

November 30th 2006